Dinkes DKI Pastikan Belum Ada Kasus Super Flu di Jakarta, Warga Tetap Diminta Waspada

Minggu 04 Jan 2026, 15:51 WIB
Ilustrasi Influenza (Sumber: freepik)

Ilustrasi Influenza (Sumber: freepik)

JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta menegaskan hingga saat ini belum ditemukan kasus Super Flu di wilayah Ibu Kota. 

Meski demikian, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan mengingat tingginya mobilitas penduduk pascalibur Natal dan Tahun Baru serta masuknya musim penghujan.

Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menjelaskan bahwa Super Flu merupakan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang disebabkan oleh virus Influenza Tipe A H3N2 Subclade K. 

Dia menyebut alasan penyakit ini disebut Super Flu karena memiliki tingkat penularan yang relatif lebih cepat dibandingkan influenza musiman.

Baca Juga: Komisi B DPRD Kota Depok Susun Renja 2026, Rencanakan Kunjungan Kerja untuk Optimalisasi PAD

"Superflu yaitu penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang disebabkan virus Influenza Tipe A H3N2 Subclade K. Disebut SuperFlu karena penyebarannya yang relatif lebih cepat," ucap Ani kepada Poskota pada Minggu, 4 Januari 2025.

Ani mengatakan, virus ini mulai meningkat aktivitas penularannya sejak Agustus 2025 di seluruh dunia.

"Meski demikian, data epidemiologi terkini yang dirilis WHO tidak mengindikasikan terdapat peningkatan keparahan penyakit," ujarnya. 

Kendati demikian, Ani menegaskan bahwa warga Jakarta tetap harus waspada terhadap potensi penularan ISPA. Tingginya pergerakan masyarakat setelah libur panjang akhir tahun, ditambah dengan kondisi cuaca musim hujan dinilai dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit pernapasan.

Baca Juga: Puncak Arus Balik Liburan Tabun Baru 2026 di Terminal Jatijajar Terpantau Lancar Tanpa Kepadatan Penumpang

"Warga Jakarta harus senantiasa waspada akan terjadinya potensi penularan penyakit ISPA, mengingat mobilitas penduduk yang cukup tinggi setelah masa libur natal dan tahun baru serta sudah dimulainya musim penghujan," kata Ani.  

"Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk senantiasa menjaga kesehatannya," sambungnya. 

Berdasarkan hasil Whole Genome Sequencing (WGS) terhadap sampel pasien influenza dari seluruh Indonesia yang dirilis Kementerian Kesehatan pada 1 Januari 2026, SuperFlu diketahui telah beredar di Indonesia sejak Agustus 2025. 

Virus tersebut terdeteksi di delapan provinsi, yakni Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Jawa Barat, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Ani mengungkapkan hingga saat ini belum ditemukan kasus Super Flu di Jakarta. 

"Berdasarkan informasi tersebut, saat ini masih belum ditemukan kasus Super Flu di Provinsi DKI Jakarta," ungkap Ani. 

Baca Juga: Diduga Mabuk Pengendara Sedan Tabrak Separator Busway hingga Terbakar 

Sebagai langkah antisipasi, Ani mengatakan saat ini Dinkes DKI aktif menjalankan fungsi sentinel surveilans untuk kasus Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di lima puskesmas pada setiap kota administrasi serta satu rumah sakit rujukan. 

"Hingga saat ini, Pemprov DKI aktif berperan menjalankan fungsi sentinel kasus Influenza-Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di 5 Puskesmas di tiap kota dan 1 RS untuk mendeteksi lebih awal indikasi penyebaran kasus ISPA di DKI Jakarta,” ungkapnya. 

Selain itu, Ani mengatakan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan di Jakarta telah diinformasikan mengenai kewaspadaan terhadap SuperFlu, termasuk pengenalan gejala dan tanda penyakit, serta penguatan upaya promotif dan preventif, khususnya pada kasus ISPA dan pneumonia.

"Fasilitas kesehatan di DKI Jakarta juga telah diinformasikan mengenai kewaspadaan penyebaran SuperFlu, mengenali gejala dan tanda penyakit, serta penguatan upaya promotif dan preventif terutama untuk kasus ISPA dan Pneumonia," ucapnya. 

Ani juga mengimbau masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, antara lain dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun, memakai masker saat sedang sakit, menerapkan etika batuk, serta menghindari kebiasaan menyentuh wajah.

"Asupan nutrisi seimbang, minum air 2 liter sehari, istirahat cukup, olahraga teratur, segera ke faskes jika keluhan berlanjut dan waspadai tanda-tanda pneumonia dan pneumonia berat napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, saturasi oksigen <92 persen," katanya. (cr-4)


Berita Terkait


News Update