Kepergian Federico Barba menjadi pukulan tersendiri bagi Persib Bandung. Meski baru bergabung pada awal musim 2025/2026, kehadiran bek kidal ini langsung memberi dampak signifikan di jantung pertahanan.
Dengan pengalaman bermain di kompetisi Eropa seperti Serie A dan Serie B Italia, Barba dikenal memiliki ketenangan dalam mengawal lini belakang, kemampuan membaca permainan, serta distribusi bola yang rapi dari bawah.
Secara statistik, kontribusi Barba tergolong impresif. Ia telah mencatatkan 16 penampilan bersama Persib di BRI Super League 2025/2026. Tidak hanya solid dalam bertahan, Barba juga produktif dengan tiga gol dan satu assist, sebuah catatan yang jarang dimiliki pemain bertahan.
Menariknya, selama setengah musim membela Maung Bandung, Barba hanya mengoleksi satu kartu kuning, menandakan kedisiplinan dan kematangan dalam bermain.
Seiring konfirmasi kepergiannya, spekulasi mengenai klub baru Federico Barba mulai beredar luas. Media Eropa menyebutkan bahwa mantan pemain Como 1907 tersebut berpeluang kembali ke Italia dan merapat ke klub Serie B, Pescara.
Selain itu, rumor lain yang berkembang di media sosial menyebutkan bahwa Barba juga diminati klub Liga Yunani, Aris Thessaloniki. Meski demikian, hingga kini Barba belum memberikan konfirmasi terkait klub tujuan berikutnya.
Baca Juga: Raih Saldo DANA Gratis Rp212.000 Hari Ini! Simak Cara Main Aplikasi Penghasil Uang 2026
“Saya belum tahu di mana saya akan bermain,” ujarnya singkat, menandakan fokus utamanya saat ini adalah menyelesaikan urusan keluarga.
Bagi Bobotoh, kepergian Barba bukan sekadar kehilangan pemain asing, melainkan sosok pemimpin di lini belakang. Banyak suporter menyampaikan doa dan dukungan melalui media sosial, menunjukkan hubungan emosional yang terjalin meski dalam waktu relatif singkat.
Sementara itu, manajemen Persib Bandung dihadapkan pada tantangan untuk mencari pengganti sepadan di sisa kompetisi. Kehilangan bek berpengalaman seperti Barba tentu akan memengaruhi keseimbangan tim, terutama dalam persaingan papan atas BRI Super League.
Kepergian ini sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap sepak bola profesional, terdapat dimensi kemanusiaan yang tidak bisa diabaikan. Federico Barba memilih pulang bukan karena karier, tetapi karena tanggung jawab sebagai anggota keluarga.
