TAMBORA, POSKOTA.CO.ID - PAM Jaya menindaklanjuti keluhan kondisi air bersih yang jarang mengalir dan kerap mengeluarkan bau tak sedap di RT 03 RW 03 Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.
Senior Manager Corporate & Customer Communication PAM JAYA, Gatra Vaganza menyampaikan bahwa laporan gangguan air di wilayah tersebut baru diterima pihaknya pada pekan lalu.
“Keluhan itu tidak sampai dua bulan. Laporan baru masuk minggu lalu, dan per kemarin tim operasional kami sudah melakukan perbaikan karena memang ada isu teknis di lapangan,” kata Gatra kepada wartawan, Kamis, 8 Januari 2026.
Terkait keluhan bau pada air PAM, Gatra tidak menutup kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh adanya proyek galian yang berpotensi mengganggu pipa distribusi.
Baca Juga: PAM Jaya Siapkan WTP Mobile dan Mobil Tangki Air untuk Korban Bencana Sumatra
“Kalau ada galian dan mengenai pipa, bisa saja terjadi kontaminasi, misalnya bercampur dengan air got, sehingga menimbulkan bau,” katanya.
Namun demikian, Gatra menyebut pekerjaan perbaikan telah selesai dilakukan.
Meski begitu, pihak PAM JAYA akan kembali melakukan pengecekan setelah mendapat informasi bahwa air di lokasi tersebut masih belum mengalir.
"Kami akan telusuri lagi ke tim operasional untuk memastikan kondisinya di lapangan,” kata dia.
Dikeluhkan Warga
Salah satu warga RT 03 RW 03 Jembatan Besi, Harijani, 64 tahun, mengatakan belakangan air PAM di rumahnya sering mati dan hanya mengalir sesekali dengan intensitas rendah.
Baca Juga: Warga Masih Beli Air Bersih Dalam Jeriken, DPRD DKI Desak PAM Jaya Percepat Perpipaan di Muara Angke
Bahkan ketika air keluar pun, kondisi air keruh dan sedikit berbau. Kondisi ini disebut sudah terjadi sekitar dua bulan.
"Air mati total itu bisa sampai hampir dua bulan, terus ketika keluar juga paling cuma satu atau dua ember. Kadang juga kalau keluar airnya keruh dan kaya bau-bau air got,” kata Harijani kepada wartawan, Kamis.
Menurutnya, kondisi air PAM tersebut tidak layak untuk digunakan, terutama untuk kebutuhan memasak dan konsumsi.
Akibat kondisi tersebut, Harijani terpaksa membeli air setiap hari untuk kebutuhan memasak.
"Kalau keadaan airnya seperti itu ga memungkinkan digunakan untuk masak, jadi saya beli air pikulan setiap hari buat masak. Sementara kalau untuk mandi atau nyuci, saya ambil nyelang air dari musala,” tuturnya.
Harijani menduga kuat kondisi ini terjadi disebabkan lantaran adanya pekerjaan galian di sekitar lingkungan rumahnya.
Ia menyampaikan, kondiri ini membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari.
“Dari sejak ada galian air jadi sering mati bahkan sempat sampai mati total hampir sebulan. Kalau keluar juga itu kecil banget, setetes-setetes. Kadang nyala, kadang mati lagi,” katanya.
