"Kebanyakan memang terjadi pada anak-anak terutama pada kasus kekerasan dan pelecehan seksual," ucapnya.
Menurutnya, peningkatan angka kekerasan ini bukan semata-mata karena kejadian baru tetapi juga dipicu pula oleh semakin beraninya masyarakat melapor.
Hal ini seiring dengan kemudahan layanan pengaduan dan meningkatnya kepercayaan publik terhadap pemerintah daerah.
"Keberhasilan sosialisasi kami ke masyarakat, kemudahan pelayanan pengaduan, serta meningkatnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah membuat warga sekarang tidak takut lagi untuk melapor," katanya.
Baca Juga: Dilanda Cuaca Ekstrem, 164 Rumah Warga di Lebak Rusak
Namun demikian, hasil asesmen DP2KBP3A menunjukkan adanya faktor pemicu lain, mulai dari pola asuh keluarga yang kurang baik, tingkat pendidikan rendah, hingga kondisi ekonomi yang lemah.
"Penggunaan gadget tanpa pengawasan juga dinilai menjadi bagian dari kesalahan pola asuh di dalam keluarga. Pemakaian yang tidak terkontrol ikut memengaruhi perilaku anak dan memicu terjadinya kekerasan," tambah Rini.
Untuk pencegahan, pihaknya rutin menggelar sosialisasi dengan melibatkan berbagai stakeholder terkait. Sementara untuk penanganan korban, DP2KBP3A KBB menyiapkan tenaga pekerja sosial, psikolog, layanan visum, pendampingan hukum hingga pendampingan di persidangan.
"Jika korban membutuhkan layanan medis yang tidak bisa dicover BPJS, kami juga berupaya memfasilitasi," ungkapnya. (gat)
