"Saya suruh pindah, takutnya dari atas jebol juga kan. Saya aja pernah lagi tidur dari atas itu kayak ada pasir ke muka saya," ungkap dia.
Meski demikian, kehangatan keluarga itu tidak pernah pudar. Di tengah ruangan yang sempit dan remang, mereka berbagi cerita, tawa, dan harapan.
Baca Juga: Kebakaran Lahap Rumah di Permukiman Padat Tambora, Warga Panik
Rukmini menyampaikan bahwa hari ini, dirinya hanya memasak nasi dan lauknya dibeli dari luar. Lauk yang dibeli pun sebisa mungkin diatur agar delapan orang di rumah itu kebagian.
"Cuma ngandelin uang pensiunan dari suami, jadi uangnya ya buat beli makan sehari-hari aja. Bansos alhamdulillah masih dapat, sembako," tuturnya.
Di rumah itu sebetulnya ada seorang lelaki yaitu anak dari Rudi. Namun, sang anak yang kini berusia 34 tahun itu, ternyata mengalami depresi hingga gangguan mental sejak remaja.
Anaknya terlihat tidur hanya beralaskan kardus di salah satu kamar yang terlihat sangat berantakan dengan barang-barang. Begitu juga dengan satu kamar tidur di sebelahnya yang juga berantakan.
"Kalau memang rumah sudah selesai direnovasi, saya pasti akan betul-betul merawat," ucap Rudi.
