Dengan sigap, keluarga tersebut mengeluarkan ember, baskom, hingga panci untuk menampung air yang masuk.
Ember-ember itu berjejer di ruang tamu, sudut dapur, hingga dekat tempat tidur, seperti penjaga kecil yang setia menghadang rembesan dari langit.
"Ya, kondisinya begini, kalau saya pensiunan udah enggak bisa ngapa-ngapain," kata Sapri yang nada bicaranya sudah terdengar rentan itu saat ditemui di rumahnya.
Rudi P, 63 tahun, mengatakan, di rumah dengan dua kamar tidur ini terdapat 10 orang yang tinggal terdiri dari dia, istri, anak, kedua orangtuanya, mantu, dan juga cucu.
Baca Juga: Kebakaran Hanguskan 3 Rumah di Permukiman Padat Tambora, 18 Mobil Damkar Dikerahkan
Pria pekerja serabutan ini mengatakan, rumah orangtua yang dia tempati itu merupakan satu-satunya rumah milik keluarga itu. Ia sangat bersyukur karena rumah itu bakal dibedah oleh pemerintah.
"Pas tau mau dibedah ya kami sangat alhamdulillah. Kami udah enggak sanggup kalau harus renovasi rumah," kata Rudi.
Rudi menyampaikan, biasanya ketika rumah sedang bocor, dirinya hanya melakukan perbaikan yang bersifat tidak permanen. Ketika hujan datang, bahkan perbaikan yang telah dilakukan kembali bocor.
"Karena biasanya cuma saya tambal aja. Jadi misalnya bocor bagian dapur, ya paling cuma diakalin aja, jadi bukan diperbaiki," tutur dia.
Kondisi rumah Sapri dan istrinya, Rukmini 82 tahun pasangan lansia ini sangat memprihatinkan. Bahkan ketika hujan seperti hari ini, keluarga di rumah ini mencari tempat yang atapnya tidak rembes air.
Plafon pada rumah satu lantai ini terlihat kondisinya sudah mau ambruk. Rumah mayoritas terbuat dari ornamen kayu itu seharusnya bisa menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi Sapri dan Rukmini yang sudah sepuh itu.
Dengan nada bicara yang sudah gemetar, Rukmini menceritakan jika hujan turun, ia pasti mengabarkan suami untuk berpindah tempat dari kamarnya yang bocor dan rembes itu.
