Memang, moyang kita tidak menulis dalam bentuk buku. Mereka menulis di atas gunung, di langit-langit, di dalam air, angin dan api. Mereka mewariskan kitab semesta. Itu pusaka yang telah ribuan tahun membuat kita hadir di republik ini. Kini, mata ajar semesta itu kami tulis ulang. Dan, bukunya telah siap menemani kita semua dalam perlawanan kewarasan.
Dus, teorama ini bukan sekadar soal proklamasi, ruang, ekspresi dan ekspansi. Melainkan tentang sejarah kelahiran bangsa, kebudayaan yang membentuk tanah air-udara, cita-cita kolektif, ideologi yang disepakati (filsafat), kurikulum yang diajarkan serta tradisi-tradisi besar menuju peradaban terbaik.
Karenanya, semua penganutnya akan memahami bahwa, bangsanya berdiri di atas kesadaran sejarah, budaya, ruang, dan cita-cita yang jelas: senasib seperjuangan; kemiskinan dan perlawanan; kehinaan dan revolusi. Para ekonom yang menulis ulang mata ajar itu merasa mendapat amanah untuk mempertahankan kedaulatan agar ditegakkan setegak-tegaknya; menyadari utuh dan mendalam tentang martabat bangsa (the dignity of nation); memahami setiap detik usaha penjajahan yang terus menerjang.
Para ekonom ini bekerja jenius untuk menikam mati keserakahan, ketidakjujuran, tradisi manipulasi, dan penyembahan iptek materialisme. Mereka meringkas hidupnya menjadi: lahir, jihad, syahid. Mereka fokus dan ikhlas, sebab yang dituju bukan hanya kalah menang, tetapi juga salah benar. Mereka yakin, kebenaran pasti datang dan tegak di bumi ini. Kemenangan hanya soal waktu dan jatah zaman.
Disclaimer: Isi artikel merupakan sudut pandang pribadi penulis, tidak mewakili redaksi.
