Ekonomika Pancasila: Di Bawah Payung Ortodoksi Ekonomi

Kamis 08 Okt 2026, 09:00 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Dok. Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Dok. Poskota)

POSKOTA.CO.ID - Mazhab itu sudah berjalan 60 tahun di Indonesia. Apa prestasinya? Tidak ada. Yang hadir hanya lima: konglomerasi, oligarki, korupsi, hutang menggunung, industri ekstraktif.

Apa itu ortodoksi ekonomi? Ini adalah aliran pemikiran ekonomi arus utama (mainstream) yang beriman pada pasar bebas, neoliberalisme, berontologi matrealisme. Tentu saja anti Tuhan, anti kemanusiaan, anti lingkungan, dan anti semesta.

Mazhab ini sangat dominan diajarkan di kampus-kampus dan diterapkan dalam kebijakan publik negara kita, yang cara bekerjanya merujuk pada ilmu ekonomi neoklasik via karbon kopi tanpa imajinasi dan kritisisme. Dari buku yang sama, tokoh yang seragam, kurikulum yang "dipaksakan" serta berdasar pada fakultas-fakultas pembebek, mazhab ini meraksasa di dunia.

Karakteristik utama dari mazhab ini adalah "menjajah, menjarah dan memperkosa dengan ketamakan luar biasa." Ia mewartakan rasionalitas: menganggap manusia bertindak rasional untuk memaksimalkan utilitas dan matrealitas.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mentradisikan Askiologi Ekopol Pancasila

Ia mengkampanyekan keseimbangan pasar: meyakinkan manusia untuk percaya bahwa pasar cenderung mencapai titik ekuilibrium secara mandiri. Padahal pasar tak pernah sempurna. Sebab, nadi dan denyut pasar justru dari asymmetric information (dis informasi) sebagai cara kaya dengan mudah dan murah.

Ia mengajarkan sekaligus mentradisikan pendekatan deduktif: mendoktrin manusia untuk mengandalkan model matematika abstrak daripada observasi empiris sosial yang luas.

Ia mendalilkan keseragaman: memaksa para pembelajar untuk percaya bahwa iptek dari mereka adalah paling benar yang harus dikopi dan dihapalkan sambil membunuh kejeniusan lokal dan moralitas teritorial.

Para agensinya beragam profesi: ekonom, bankir, akuntan dan sarjana hukum. Empat profesi itu di kita, bekerja di tiga lembaga pengepung istana: Bank Indonesia (dan Himbara tentu saja), Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) serta Kementrian Keuangan.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Menyegarkan Epistemologi Ekopol Pancasila

Lahirlah ekonomi konglomerasi. Ini adalah perusahaan sangat besar yang memiliki dan mengelola berbagai bisnis dari sektor industri yang berbeda dalam satu grup perusahaan serta memiliki banyak anak perusahaan yang beroperasi di bidang yang tidak selalu berkaitan. Kerjanya hanya empat macam: monopoli, oligopoli, monopolistik, dan monopsoni.


Berita Terkait


News Update