POSKOTA.CO.ID - “Jangan harap dapat mengubah orang lain, apalagi mengubah dunia, kalau diri sendiri tidak mau berubah. Awali perubahan diri menjadi orang baik, sebelum mengubah orang lain menjadi lebih baik.Begitupun ketika para elite politik dan pejabat publik hendak mengedukasi nasionalisme dan patriotisme.” -Harmoko-
Siapa mengira aksi generasi muda atau Gen Z yang diawali dari balik layar gadget pada akhirnya dapat menumbangkan pemerintahan seperti di Nepal. Berujung kepada pemakzulan presiden sebagaimana halnya di Peru.
Tentu aksi dari balik layar kaca ini berlanjut dengan menyatunya gerakan kawula muda melalui demonstrasi besar – besaran yang didukung masyarakat dari berbagai kalangan dengan satu tujuan melakukan perubahan menuju perbaikan di segala sektor kehidupan. Tak terkecuali tata kelola pemerintahan dan layanan publik.
Gerakan serupa dengan isu ketidakadilan, transparansi dan ketidakpercayaan institusi terjadi pula di sejumlah negara belahan dunia, sebut saja Bangladesh, Madagaskar, Meksiko hingga negara di Eropa.
Baca Juga: Kopi Pagi: Perkuat Ketahanan Pangan Lokal
Aksi ini menggambarkan secara nyata bahwa generasi muda memegang peran sebagai penggerak perubahan di negaranya, menyatukan visi dan misi dalam memajukan negeri, menyejahterakan bangsanya.
Peran ini telah teruji tak hanya di era digital sekarang ini, tetapi sejak dulu kala.
Di tengah keterbatasan yang menggelayutinya, kaum muda negeri kita mampu ‘menyatukan’ Indonesia melalui ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Menyatukan Indonesia yang terdiri dari 17.380 pulau menjadi satu tanah air yakni Tanah Air Indonesia. Menyatukan Indonesia yang terdiri dari 1.340 suku bangsa menjadi satu bangsa, yakni Bangsa Indonesia dan menyatukan Indonesia yang memiliki 718 bahasa menjadi satu bahasa persatuan, yakni Bahasa Indonesia.
Baca Juga: Kopi Pagi: Cek Ombak 2029
Kini sudah terwujud satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonesia. Lantas bagaimana yang sudah “Satu” tadi teraplikasi secara nyata dalam kehidupan sehari – hari, bukan sebatas terucap dalam kata, apalagi retorika historia semata.
Kita tentu tidak ingin nilai Sumpah Pemuda lekang oleh zaman. Ikrar yang memiliki tujuan dasar menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, jangan hanya dimaknai sebagai catatan sejarah.
Penafsiran makna cinta tanah air, semangat nasionalisme, patriotisme dan kegotongroyongan, harus terus diaktualkan agar tidak terjadi lost generations.
Nilai – nilai luhur yang dikedepankan adalah mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kepentingan sekelompok elite harus sirna, jika sudah bicara untuk kepentingan rakyat.
Baca Juga: Kopi Pagi: Ubah yang Susah jadi Mudah
Nilai – nilai ini yang harus terus diedukasi tiada henti agar senantiasa terpatri dalam sanubari setiap anak negeri, siapa pun dia. Tak terkecuali Gen Z (kelahiran 1997 -2012) yang kelak akan mengawal Indonesia Emas.
Disertai harapan, para elite dan pejabat publik yang mengedukasi nilai –nilai nasionalisme, harus lebih baik dari yang diedukasi.
Jika tidak? situasi akan berbalik, Gen Z yang akan mengedukasi para elite dan pejabat publik dengan melakukan gerakan perubahan tata kelola negara agar tetap selaras dengan nilai luhur nasionalisme, mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa dan negara di atas segalanya.
Mengubah Indonesia bukan hal yang mustahil. Dengan menguasai lebih dari separuh suara pemilu, kawula muda dapat menentukan sosok kepemimpinan periode mendatang.
Baca Juga: Kopi Pagi: Kemandirian Parpol Mendesak
Dari balik layar gadget dapat memformulasikan pemimpin masa depan, siapa figur yang layak mendapat mandat rakyat. Tentu, sosok pemimpin yang telah teruji memiliki komitmen tinggi memajukan bangsa dan negara serta menyejahterakan rakyatnya.
Melalui peringatan Hari Sumpah Pemuda hendaknya menjadi momentum bagi kawula muda kian meneguhkan pengabdian tertinggi membangun negeriku, Indonesia berdaulat, adil dan makmur.
Tiada henti menebar mimpi guna meneguhkan diri meraih cita – cita tinggi menjadikan negeri yang “gemah ripah loh jinawi. tata tentrem kerta raharja “- negeri yang subur makmur, sentosa, tentram dan damai.
Dapat diibaratkan “ subur kang sarwa tinandur lan murah kang sarwa tinuku “- tanahnya subur ditanami apa saja tumbuh Tongkat kayu pun jadi tanaman. Serta serba murah dan terbeli oleh rakyat.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mari Jaga Bumi Kita
Tampil menjadi pionir mengolah dan mengelola kekayaan alam kita yang melimpah ruah bagaikan “Zamrud di khatulistiwa”, untuk kemakmuran rakyatnya.
Membangun negeri bukanlah mimpi, tetapi mengubah nasib bangsa bisa dimulai dari mimpi- mimpi, tak terkecuali “Mimpiku mengubah dunia”. Boleh jadi mengubah dunia menjadi mimpi kita semua, generasi muda. Bermula dari mimpi melahirkan gagasan dan pikiran, bergerak melalui aksi yang berdampak nyata bagi kemajuan bangsa – kemaslahatan umat.
Tak berlebihan, jika sang founding father, Bung Karno sejak awal telah berpesan: Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.
Menginspirasi dan memotivasi generasi muda Indonesia agar tidak membatasi diri dalam memiliki harapan, visi dan target hidup yang tinggi. Kalaupun gagal masih tetap berada di tempat yang tinggi, bukan titik terendah.
Baca Juga: Kopi Pagi: Mitigasi Krisis Lingkungan
Ambisius? Jawabnya membangun negeri harus penuh ambisi disertai edukasi, utamanya mengedukasi diri sendiri..
Ingat! Jangan harap dapat mengubah orang lain, apalagi mengubah dunia, kalau diri sendiri tidak mau berubah. Maknanya, awali perubahan diri menjadi orang baik, sebelum mengubah orang lain menjadi lebih baik, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.
Begitupun ketika para elite politik dan pejabat publik hendak mengedukasi nilai – nilai nasionalisme dan patriotisme, maka edukasi terlebih dahulu diri sendiri melalui keteladanan baik dalam ucapan maupun perbuatan.
Selamat Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026.
