POSKOTA.CO.ID - “Untuk menjadi bangsa yang besar dan kuat, membutuhkan generasi penerus yang yang tak hanya unggul secara intelektual, juga tangguh secara mental. Bukan hanya jiwa yang sehat secara medik, waras dan berpikir jernih, namun jiwa perjuangan, jiwa kemandirian perlu terus dibangun dan dibangkitkan.” -Harmoko-
Masalah kesehatan jiwa, sering disebut kesehatan mental masyarakat Indonesia belakangan menjadi sorotan, menyusul potensi gangguan kesehatan jiwa penduduk dunia nyata adanya.
Organisasi Kesehatan Dunia - World Health Organization (WHO) merilis lebih dari 1 miliar orang di dunia yang kira – kira setara dengan 1 dari setiap 7 orang.
Hidup dengan gangguan kesehatan mental. Kecemasan dan depresi sebagai kondisi paling umum.
Baca Juga: Kopi Pagi: Petani Pahlawan Negeri
Sumber lain menyebutkan sekitar 40 persen Generasi Z di seluruh dunia melaporkan membutuhkan bantuan terkait kesehatan mental mereka. Sementara 4 dari 10 orang dewasa Generasi Z di dunia mengatakan mereka merasa cemas alias stres hampir sepanjang waktu.
Data ini menggambarkan bahwa anak – anak dan remaja rentan mengalami gangguan kesehatan mental oleh berbagai faktor penyebab. Ini masalah krusial, mengingat anak – anak merupakan masa depan bangsa, merekalah generasi penerus bangsa di negara manapun berada.
Begitu seriusnya masalah kesehatan jiwa (mental) hingga Badan Kesehatan PBB, WHO menetapkan "Hari Kesehatan Jiwa Dunia - World Mental Health Day" pada setiap tanggal 10 Oktober.
Lantas bagaimana dengan negara kita? Jawabnya tidak kalah krusialnya.
Baca Juga: Kopi Pagi: Pancasila Bukan Hafalan, tapi Pengalaman
Data Kementerian Kesehatan pada awal 2026 menunjukkan sekitar 5 persen anak dan remaja Indonesia mengalami gejala gangguan jiwa, terutama depresi dan kecemasan.
