Baca Juga: Solusi Dapat Dana PIP 2026 Walau Tak Punya KIP, Siswa Bisa Lewat Jalur Ini
Paparan tersebut banyak terjadi melalui konten kekerasan di ruang digital, termasuk dalam komunitas daring seperti True Crime Community.
“Kemudian apabila tidak ditangani sejak dini, fase ini dapat berkembang ke tahap yang lebih berbahaya,” ucap Eddy.
Sementara itu, Juru Bicara Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri Komisaris Besar Polisi Mayndra Eka Wardhana mengatakan anak-anak umumnya belum menganut ideologi ekstrem secara utuh.
Namun, mereka kerap meniru perilaku atau tokoh ekstrem melalui aktivitas menyerupai cosplay yang tetap berpotensi membahayakan.
“Ada kecenderungan meniru, meskipun belum sepenuhnya didorong oleh ideologi. Namun ketika aksi tersebut terjadi, dampak bahayanya hampir sama,” kata Mayndra.
Mayndra mencontohkan ideologi Neo-Nazi yang meski tergolong lama, kini kembali menarik perhatian anak-anak melalui narasi kepahlawanan dan superioritas yang mendorong proses dehumanisasi terhadap pihak lain.
“Telah terjadi fenomena di ruang digital terkait paparan anak-anak terhadap konten kekerasan,” kata Eddy.
