“Masyarakat itu capek. Dari dulu selalu begitu. Diredam sebentar, nanti muncul lagi. Padahal sudah banyak cara dilakukan,” ucap Syaifullah kepada Poskota.
Ia menilai berbagai program penanganan tawuran belum menyentuh akar persoalan di tingkat warga. Akibatnya, masyarakat tetap menjadi pihak yang paling dirugikan.
“Kalau cuma program datang lalu pergi, warga tidak merasakan apa-apa. Pemerintah dan polisi harus benar-benar serius, turun langsung, dan konsisten,” kata Syaifullah.
Menurutnya, penanganan tawuran harus melibatkan seluruh unsur pemerintahan hingga tingkat RT, RW, dan kelurahan agar pengawasan berjalan efektif.
Selain itu, Syaifullah juga menyoroti pola tawuran yang kerap terjadi pada waktu dan cara yang hampir sama, sehingga memunculkan kecurigaan adanya faktor lain yang perlu diusut aparat.
“Coba perhatikan tawuran kemarin itu sebenarnya ada apa? Tapi saya enggak mau nyebut, silakan telaah. Jangan sampai masyarakat terus lelah sementara tawuran tidak pernah benar-benar selesai,” terang Syaifullah.
