Obrolan Warteg: Tim Solid dan Kompak

Jumat 08 Agu 2025, 07:11 WIB
Ilustrasi obrolan warteg: Tiga sahabat membahas soliditas Kabinet Merah Putih. Salah satu dari mereka mengingatkan, "Kabinet itu kudu solid, jangan one man show…". (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

Ilustrasi obrolan warteg: Tiga sahabat membahas soliditas Kabinet Merah Putih. Salah satu dari mereka mengingatkan, "Kabinet itu kudu solid, jangan one man show…". (Sumber: Poskota/Arif Setiadi)

POSKOTA.CO.ID - Kabinet Merah Putih bekerja dengan sangat solid dan sangat kompak.

Itu penilaian Presiden Prabowo Subianto seperti disampaikan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), Hasan Nasbi menanggapi munculnya spekulasi publik terkait kemungkinan perombakan kabinet alias reshuffle.

“Ibarat kesebelasan sudah tampil sebagai tim yang kompak , kuat dan tangguh. Saling bekerja sama, saling mengisi dan melengkapi membangun kolaborasi dalam setiap laga untuk tampil sebagai juara,” kata bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

“Ketahuan sebagai pecinta sepakbola, segala sesuatunya diibaratkan dengan tim kesebelasan,” kata Yudi.

“Nggak salah juga sih.Kabinet itu bagaikan satu tim yang harus solid. Kalau masing – masing jalan sendiri- sendiri, gimana. Cari pencitraan dirinya, kementeriannya sendiri, yang lain nggak ambil pusing. Namanya nggak selaras, bisa –bisa tabrakan di lapangan,” jelas mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Menggelorakan Game Tradisional

“Kalau hanya mementingkan diri sendiri, lembaga yang yang dipimpinnya, namanya ego sektoral. Kalau sudah demikian,namanya nggak solid,” kata Yudi.

“ Ibarat kesebelasan, dapat bola langsung dibawa sendiri, maunya masukin ke gawang, nggak ngasih umpan ke kawan yang posisinya lebih menguntungkan untuk mencetak gol,” urai Heri.

“Okelah kalau ibarat kesebelasan. Jika tim sudah sangat solid dan kompak berarti berpeluang meraih kemenangan, lebih banyak mencetak gol, ketimbang kemasukan gol,” kata Yudi.

“Logika dalam kesebelasan begitu. Jika masih kalah juga, berarti lawan yang dihadapi lebih unggul dan tangguh. Jika lawan ecek – ecek, masih kalah juga, namanya nasib. Itulah permainan,”  ujar Heri.

“Yang menentukan kesebelasan itu kompak atau tidak itu siapa?,” tanya  Yudi.

“Ya, pelatihnya, para pemainnya, juga kapten kesebelasan yang pegang peran,” kata Heri.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Berkibarlah Benderaku

“Penonton juga dapat melakukan penilaian karena melihat langsung saat berlaga di lapangan. Mana pemain yang kurang cermat, kurang terampil, sering keliru , lalai, salah strategi, salah perhitungan sehingga merugikan timnya membuahkan gol kemenangan,” kata Yudi.

“Iya juga sih. Mata penonton lebih banyak ketimbang pelatih, mungkin yang pelatih tidak melihat, penonton ada yang melihatnya. Ibarat pengawasan, lebih banyak mata yang melihat akan lebih baik, ketimbang hanya sedikit mata,” kata mas Bro.

“Itu yang disebut partisipasi publik dalam pengawasan dan evaluasi sebagai pihak eksternal, boleh jadi merasakan langsung dampak dari sebuah kebijakan yang kurang tepat,” tambah mas Bro.

“Kembali kepada kesebelasan. Yang merasakan langsung kesulitan di lapangan adalah pemain. Yang merasakan solid tidaknya kerja sama tim adalah pemain, bukan penonton,” kata Heri.

“Yang jelas, penonton tentu berharap hasil kerja yang maksimal dari kesebelasan yang kuat dan kompak. Jangan sampai, timnya sudah kuat dan kompak, tapi jarang membuahkan gol kemenangan,” jelas Yudi. (Joko Lestari)


Berita Terkait


undefined
SERBA-SERBI

Obrolan Warteg: Libur Tambahan

Senin 04 Agu 2025, 06:27 WIB

News Update