“Ya, pelatihnya, para pemainnya, juga kapten kesebelasan yang pegang peran,” kata Heri.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Berkibarlah Benderaku
“Penonton juga dapat melakukan penilaian karena melihat langsung saat berlaga di lapangan. Mana pemain yang kurang cermat, kurang terampil, sering keliru , lalai, salah strategi, salah perhitungan sehingga merugikan timnya membuahkan gol kemenangan,” kata Yudi.
“Iya juga sih. Mata penonton lebih banyak ketimbang pelatih, mungkin yang pelatih tidak melihat, penonton ada yang melihatnya. Ibarat pengawasan, lebih banyak mata yang melihat akan lebih baik, ketimbang hanya sedikit mata,” kata mas Bro.
“Itu yang disebut partisipasi publik dalam pengawasan dan evaluasi sebagai pihak eksternal, boleh jadi merasakan langsung dampak dari sebuah kebijakan yang kurang tepat,” tambah mas Bro.
“Kembali kepada kesebelasan. Yang merasakan langsung kesulitan di lapangan adalah pemain. Yang merasakan solid tidaknya kerja sama tim adalah pemain, bukan penonton,” kata Heri.
“Yang jelas, penonton tentu berharap hasil kerja yang maksimal dari kesebelasan yang kuat dan kompak. Jangan sampai, timnya sudah kuat dan kompak, tapi jarang membuahkan gol kemenangan,” jelas Yudi. (Joko Lestari)
