POSKOTA.CO.ID - Berlibur ke Dataran Tinggi Dieng pada musim kemarau memang menawarkan pengalaman yang berbeda. Langit cerah, panorama pegunungan yang memukau, hingga fenomena embun upas menjadi daya tarik utama kawasan wisata di Jawa Tengah tersebut. Namun, di balik keindahannya, wisatawan juga perlu bersiap menghadapi suhu udara yang bisa mencapai titik ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa suhu udara di kawasan Dieng diperkirakan akan terus menurun selama periode Juli hingga September 2026. Bahkan, pada kondisi tertentu, suhu dapat turun hingga di bawah 0 derajat Celsius, terutama pada dini hari hingga menjelang matahari terbit.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Semarang, Yoga Sambodo, mengimbau masyarakat yang berencana berkunjung ke Dieng agar mempersiapkan perlengkapan yang sesuai dengan kondisi cuaca.
"Kami mengimbau wisatawan yang akan berkunjung selama periode Juni sampai September untuk menyiapkan pakaian yang disesuaikan dengan kondisi setempat, seperti jaket tebal, sarung tangan, dan kaus kaki," ujar Yoga Sambodo.
Baca Juga: Disamarkan dalam Kemasan Kopi dan Milo, Bareskrim Gagalkan Penyelundupan 3,37 Kg Psikotropika
Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Pada musim kemarau, langit yang cenderung cerah membuat panas dari permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer saat malam hari. Akibatnya, suhu udara di kawasan pegunungan seperti Dieng dapat turun drastis dibandingkan daerah lain di Jawa Tengah.
Embun Upas Diperkirakan Mencapai Puncak pada Agustus
Selain suhu yang sangat dingin, BMKG juga memperkirakan tingkat kelembapan udara di kawasan pegunungan tetap cukup tinggi. Kombinasi udara lembap dan suhu yang sangat rendah menjadi kondisi ideal terbentuknya embun upas, yaitu butiran es tipis yang menempel di permukaan tanaman, rumput, maupun benda lain.
Fenomena alam yang sering dijuluki "salju Dieng" ini biasanya muncul pada puncak musim kemarau dan diperkirakan mencapai intensitas tertinggi pada Agustus 2026.
Laporan dari wilayah Dieng menunjukkan fenomena tersebut mulai terlihat lebih awal. Pada Kamis, 9 Juli 2026, suhu udara di kawasan itu dilaporkan menyentuh -6 derajat Celsius, menjadi suhu terendah yang tercatat sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, suhu terendah yang sempat terjadi berada di kisaran -4 derajat Celsius.
Kondisi ekstrem tersebut menyebabkan daun-daun dan tanaman sayuran di sejumlah lahan pertanian membeku. Lapisan es tipis tampak menyelimuti permukaan tanaman hingga terlihat bening, sekaligus meningkatkan risiko kerusakan pada komoditas pertanian.
