BANDUNG BARAT, POSKOTA.CO.ID - Waduk Saguling kembali diterjang fenomena kematian massal ikan. Para peternak Keramba Jaring Apung (KJA) di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, dibuat kelimpungan setelah ribuan ikan mati dalam waktu singkat.
Salah seorang peternak KJA, Teten Buldani Hayat 52 tahun, bahkan mengaku kehilangan sekitar 5 ton ikan hanya dalam kurun dua hari. Kerugian semakin besar karena ikan yang masih hidup terpaksa dijual murah akibat kualitasnya mulai terdampak.
Teten mengatakan, kematian ikan di keramba miliknya terjadi dalam dua gelombang. Pertama pada 21-22 Oktober dan kembali terjadi pada 28 Oktober 2026.
"Kalau dihitung dari ikan yang mati saja, jumlahnya sekitar lima ton. Sebagian besar ikan mas dan nila," ujar Teten.
Baca Juga: Kemarau Cekik Peternak Bandung Barat, Dispernakan KBB Imbau Kelola Pakan Terencana
Menurut dia, kematian massal tersebut diduga berkaitan dengan fenomena upwelling, yakni naiknya massa air dari bagian dasar waduk menuju permukaan.
Pergerakan massa air itu dapat membawa material yang mengendap di dasar waduk sekaligus memengaruhi suhu dan kadar oksigen di perairan.
Kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi ikan yang berada di dalam keramba.
"Perubahan cuaca dari kemarau panjang menuju hujan deras kemungkinan ikut memicu pergerakan air di dalam waduk. Saat kondisi air berubah, ikan menjadi sangat rentan," jelasnya.
Baca Juga: Dugaan Peredaran Bebas Obat Keras di Bandung Barat Resahkan Warga, Klinik Disorot
Lebih lanjut, diperparah dengan menyusutnya volume air waduk. Kata dia, kadar oksigen terlarut yang biasanya dibutuhkan ikan berada di kisaran 2,6, namun ketika kejadian kematian massal berlangsung, angkanya sempat turun drastis hingga 0,7.
"Ketika oksigen turun sejauh itu, ikan tidak punya cukup pasokan untuk bertahan. Akhirnya ikan di keramba satu per satu mati," katanya.
Jika menggunakan harga normal sekitar Rp23 ribu per kilogram, lima ton ikan yang mati tersebut bernilai sekitar Rp115 juta.
Namun, kerugian peternak ternyata tidak hanya berasal dari ikan yang mati. Sebagian ikan yang masih hidup buru-buru dikeluarkan dan dijual untuk menghindari kerugian lebih besar.
Baca Juga: Bupati Bandung Barat Janji Sekolah Terpencil jadi Prioritas Pembangunan
Sayangnya, banyak peternak melakukan hal serupa sehingga pasokan ikan membanjiri pasar dan harga langsung anjlok.
"Situasinya membuat kami tidak bisa menunggu harga normal. Ikan yang masih bisa diselamatkan langsung dijual, tetapi harganya hanya sekitar Rp5 ribu sampai Rp7 ribu per kilogram," ungkapnya.
Akibat harga yang terjun bebas, ikan yang secara normal dapat menghasilkan sekitar Rp120 juta itu hanya mampu memberikan hasil penjualan sekitar Rp18 juta.
Sementara ikan berukuran kecil yang tidak laku dijual akhirnya dibagikan kepada masyarakat.
Baca Juga: 131 Proyek Strategis Bandung Barat Digeber 2026, Jalan Desa hingga Puskesmas jadi Prioritas
Mengantisipasi kejadian kembali terulang, Teten kini mengurangi jumlah benih yang ditebar di keramba.
Ia juga menggunakan mesin pompa air atau alkon untuk membantu menambah pasokan udara bagi ikan.
"Kami sekarang lebih hati-hati. Jumlah benih dikurangi dan pompa disiapkan untuk membantu menjaga kondisi air, terutama ketika oksigen kembali turun," tuturnya.
Dia berharap kematian massal ikan tersebut menjadi yang terakhir terjadi sepanjang 2026. Sebab, fenomena serupa pada tahun sebelumnya telah mengakibatkan kerugian besar bagi peternak KJA di Waduk Saguling.
Baca Juga: Bupati Bandung Barat Janji Sekolah Terpencil jadi Prioritas Pembangunan
Pada 2025, secara keseluruhan, kerugian akibat kematian massal ikan disebut mencapai sekitar Rp10 miliar.
"Jangan sampai kejadian seperti tahun lalu kembali terulang. Saat ini saja kami sudah terpukul, dan kami berharap tidak ada lagi kematian ikan dalam jumlah besar," harapnya.
Selain fenomena upwelling, Teten juga menyoroti persoalan pencemaran air dari wilayah hulu. Menurut dia, berbagai limbah yang masuk ke Waduk Saguling berpotensi memperburuk kualitas air dan meningkatkan risiko kematian ikan.
"Persoalan dari hulu juga harus diperhatikan. Kalau limbah terus masuk ke waduk, kualitas air pasti semakin tertekan. Ini yang harus dikendalikan supaya peternak tidak terus menjadi korban," tuturnya.
