"Ketika oksigen turun sejauh itu, ikan tidak punya cukup pasokan untuk bertahan. Akhirnya ikan di keramba satu per satu mati," katanya.
Jika menggunakan harga normal sekitar Rp23 ribu per kilogram, lima ton ikan yang mati tersebut bernilai sekitar Rp115 juta.
Namun, kerugian peternak ternyata tidak hanya berasal dari ikan yang mati. Sebagian ikan yang masih hidup buru-buru dikeluarkan dan dijual untuk menghindari kerugian lebih besar.
Baca Juga: Bupati Bandung Barat Janji Sekolah Terpencil jadi Prioritas Pembangunan
Sayangnya, banyak peternak melakukan hal serupa sehingga pasokan ikan membanjiri pasar dan harga langsung anjlok.
"Situasinya membuat kami tidak bisa menunggu harga normal. Ikan yang masih bisa diselamatkan langsung dijual, tetapi harganya hanya sekitar Rp5 ribu sampai Rp7 ribu per kilogram," ungkapnya.
Akibat harga yang terjun bebas, ikan yang secara normal dapat menghasilkan sekitar Rp120 juta itu hanya mampu memberikan hasil penjualan sekitar Rp18 juta.
Sementara ikan berukuran kecil yang tidak laku dijual akhirnya dibagikan kepada masyarakat.
Baca Juga: 131 Proyek Strategis Bandung Barat Digeber 2026, Jalan Desa hingga Puskesmas jadi Prioritas
Mengantisipasi kejadian kembali terulang, Teten kini mengurangi jumlah benih yang ditebar di keramba.
Ia juga menggunakan mesin pompa air atau alkon untuk membantu menambah pasokan udara bagi ikan.
"Kami sekarang lebih hati-hati. Jumlah benih dikurangi dan pompa disiapkan untuk membantu menjaga kondisi air, terutama ketika oksigen kembali turun," tuturnya.
