Ekonomika Pancasila: Pokok-Pokok Pikiran Rizal Ramli

Rabu 16 Sep 2026, 07:39 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

Tegas, full data, cerdas, petarung yang tangguh. Ideolog yang tak jemu beperang, guru yang tak pernah berhenti. Inilah potret diri Rizal Ramli. Sejauh yang kita baca dan lihat, ia mewariskan banyak pikiran out of the box. Berikut beberapa di antaranya.

Pertama dan paling utama, tesisnya adalah keberdikarian. Di segala bidang. Itulah pondasi agar negeri ini bukan hanya merdeka, tetapi maju dan kuat di dunia. Rizal mendesain Indonesia yang ia cintai "berdikari" secara ekonomi. Dus, kekayaan SDA tidak boleh dijual mentah (anti ekstraktif), uang negara tidak boleh bocor, anti utang yang menjebak/haram, anti impor yang oligopolis, puncaknya rakyat kecil harus jadi prioritas.

Kedua, beyond ekonometrika. Baginya, ilmu ekonomi akan berguna jika ia bekerja melampaui batas-batas ekonomi liberal yang menyiksa. Dengan begitu akan terlihat: siapa ekonom palsu dan siapa ekonom ksatria. Karenanya, semua ekonom harusnya jadi "ekonom kerakyatan" yang keras dan cerdas membela rakyat sehingga harus "data-driven" dan kontra mainstream yang ilusi karena anti Indonesia.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Kwartet Kemiskinan Nasional

Ketiga, menguatkan ekonomi lemah dan menjaga ekonomi yang sudah kuat. Rizal yakin sekali itulah pokok kerja pemerintah. Jika tidak melakukan itu, pemerintah layak diganti. Sebab, prasyarat kemajuan bangsa adalah keberhasilan negara menumpas kemiskinan dan ketimpangan plus pengangguran. Rizal tentu saja menolak liberalisasi sehingga negara harus hadir dan melindungi rakyat kecil, UMKM, petani, nelayan, dll. Pasar harus dikelola sehingga BUMN dan koperasi jadi benteng ekonomi nasional; agen pembangunan di sektor strategis: listrik, pelabuhan, pupuk, semen, dll. Sedangkan koperasi wajib dikuatkan biar jadi penampung hasil UMKM dan petani, untuk melawan tengkulak.

Keempat, praktek ekonomi perlindungan, pengentasan dan pemajuan jauh lebih riil dari teori-teori di atas kertas. Untuk tesis ini, Rizal sering berucap, “tidak ada kepentingan lain yang kita miliki kecuali untuk bangsa dan negara." Rizal ingin menyumbangkan semua tenaga dan pikiran ini untuk kemajuan Indonesia. Untuk Indonesia yang memberikan perlindungan bagi rakyat kecil. Di sini kedaulatan ekonomi, pangan dan energi menjadi trisula yang selalu ia proklamasikan.

Pekiknya selalu keras: stop impor pangan; fokus swasembada beras, jagung, kedelai, daging; subsidi harus langsung ke petani; segerakan hilirisasi; bank harus biayai sektor real, bukan spekulasi; tolak utang luar negeri buat konsumsi. Utang hanya boleh untuk proyek produktif yang hasilnya bisa bayar utang. Itupun harus sangat hati-hati karena bahaya bagi generasi berikutnya.

Kelima, dari ekonom pasar ke ekonom pancasila. Tentu saja, semua ekonom pada awalnya adalah libertarian yang pro pasar. Hal ini karena fakultas ekonomi dan kurikulumnya dikuasai oleh narasi ekonomi pasar. Karena kejeniusan saja, Rizal balik arah: membela rakyat miskin dan melawan oligarki, praktik otoritarianisme, tradisi nepotisme dan agama neokapitalisme sebagai anak kandung para penjajah bin penjarah.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Beyond Oligark State

Rizal berseru agar industrialisasi dan hilirisasi SDA segera dikerjakan untuk ciptakan lapangan kerja, nilai tambah, dan devisa di dalam negeri. Hal ini harus diiringi dengan program pajak progresif di mana konglomerat dan oligark bayar lebih besar.

Keenam, anti KKN. Baginya, sebesar apapun ekonomi kita akan habis jika KKN tidak dibasmi. Karenanya ia kampanye juga agar terjadi efisiensi belanja dengan memototong belanja birokrasi, perjalanan dinas agar dialihkan ke kesehatan, pendidikan, infrastruktur produktif serta melaksanakan transparansi APBN agar tidak bocor ke korupsi.

Tentu saja, Rizal adalah ideolog bagi demokrasi ekonomi yang sangat antikorupsi, anti monopoli, oligopoli dan kartelisasi. Semua harus tunduk pada hukum yang adil sehingga kita harus hapus izin-izin yang membuat biaya tinggi, dan beri ruang sebesar-besarnya ke usaha rakyat.

Tentu saja, beliau adalah penulis yang sangat baik dan tajam. Rizal menulis ratusan artikel dan sekitar lima belas judul buku, baik yang sendirian maupun bersama-sama dengan koleganya. Satu dari buku yang dahsyat itu berjudul, “Globalisasi Menghempas Indonesia." Buku ini diterbitkan Pustaka LP3ES Inonesia, tahun 2006. Isinya dengan sangat keren melukiskan negeri ini sebagai negeri emas yang dihargai sangat murah oleh para elitenya karena “mental pengkhianat” yang makin merajalela.

Elite politik yang berkuasa dan dikritik bang Rizal itu lupa kaidah “ketika politik tidak bisa menyejahterakan dan mengadilkan, maka impian orang-orang miskin, bodoh dan amoral adalah menjadi penguasa yang serakah serta cabul sehingga tidak berkah.” Rizal telah berpulang, tapi pikiran dan semangatnya kami terus kembangkan. Di mazhab Tebet, semua karyanya dipelajari untuk disemai bagi Indonesia raya agar jaya serta menyemesta.

Disclaimer: Isi artikel merupakan sudut pandang pribadi penulis, tidak mewakili redaksi.


Berita Terkait


News Update