Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)
Mengapa ekopol kita makin tak bersentosa? Yang terjadi: makin hari ketimpangan dan keterbelahan terlihat nyata. Ternyata karena kita mengabsenkan asas spiritualisme dalam pelaksanaannya. Buktinya: kita banyak berdoa (ritualisme), tapi KKN jadi tradisi.
Padahal, ada tiga tesis yang dapat menjelaskan pernyataan di atas. Pertama, "makin konstitusional ekopol kita makin sejahtera dan sentosa." Kedua, "makin anti konstitusional ekopol kita makin terbelah dan senjang." Ketiga, "usaha merekonstitusional ekopol kita adalah merealisasikan cita-cita berindonesia dan proklamasi kemerdekaan."
Itu artinya, asas spiritualitas mengubah fungsi negara kolonial (lama) yang sekuler menjadi negara berketuhanan, merubah struktur negara jajahan menjadi negara merdeka, mengubah subtansi perbudakan menjadi manusia berdaulat, berkebebasan, berkemandirian dan berketuhanan.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Mentradisikan Askiologi Ekopol Pancasila
Artinya, semua orientasi kejahatan dan ketamakan plus keduniawian berubah menjadi keilahian dan kesakralan plus kesemestaan (theo-antro-eco centrisme).
Dus, pancasila (basis spiritual), konstitusi dan ekopol itu resiprokal kritis. Kita tahu, secara filosofis, pancasila dan konstitusi memiliki 5 dasar statis dan 4 dasar dinamis yang saling terhubung serta dialektis.
Lima dasar statis itu adalah: bertuhan, berkemanusiaan, berpersatuan, bergotong-royong dan berkeadilan. Sedang 4 dasar dinamisnya adalah: melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan dan menertibkan. Bagaimana kelindan resiprokalnya? Dalam tata cara bertuhan kita harus melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan dan menertibkan. Dalam tata cara berkemanusiaan kita harus melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan dan menertibkan.
Dalam tata cara berpersatuan kita harus melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan dan menertibkan. Dalam tata cara bergotong-royong kita harus melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan dan menertibkan. Dalam tata cara berkeadilan kita harus melindungi, menyejahterakan, mencerdaskan dan menertibkan.
Karenanya di artikel ini, pancasila, bertuhan (spiritualisme) dan ekopol pancasila merupakan tiga narasi yang dibahas bersamaan kalau kita mendiskusikan pancasila sebagai way of life, spiritualisme sebagai penerang, dan ekopol sebagai perealisasi di kehidupan bernegara. Ketiganya bagaikan ontologi, epistemologi dan aksiologi yang menyatu menghasilkan "negara Indonesia" yang direncanakan para pendirinya.
Apa itu spiritualisme dalam pancasila? Intinya menempatkan nilai ketuhanan sebagai kompas, bukan dogma kaku. Dasarnya tentu saja sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Dengan maknanya yang meluas, meruang dan mewaktu. Bukan cuma soal agama formal, tapi kesadaran bahwa manusia punya dimensi batin: iman, moral, nurani dan estika-estetika.
