PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) membuka peluang pencarian delapan korban hilang di Selat Sunda, Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, dilanjutkan.
Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) terhadap delapan orang hilang, terdiri dari lima jurnalis dan tiga awak kapal speedboat Arupadhatu I, dihentikan usai berlangsung sepuluh hari, Kamis, 17 September 2026.
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad menyampaikan, penghentian operasi pencarian fisik bukan berarti pemantauan terhadap kedelapan korban di Selat Sunda berhenti total.
"Kami akan lakukan pemantauan melalui BTS, termasuk dari Lanal, Polairud, termasuk kapal yang melintas di perairan Selat Sunda ini akan menjadi ujung tombak kami," kata Amrad dalam jumpa pers di Dermaga Marina Carita, Kamis, 17 September 2026.
Selama operasi pencarian, 523 personel SAR gabungan dikerahkan menyisir area seluas 8.509 nautical mile persegi. Namun, operasi tidak berhasil menemukan tanda-tanda keberadaan para korban.
Hasil verifikasi Ditpolairud Polda Banten terhadap 13 material terapung yang sempat ditemukan selama operasi juga memastikan seluruhnya tidak berkaitan dengan speedboat Arupadhatu I.
Usai penutupan resmi, Gubernur Banten, Andra Soni, tim SAR gabungan, dan warga menggelar doa bersama di hadapan foto kedelapan penumpang yang hilang kontak sejak meliput Gunung Anak Krakatau pada 7 September 2026.
"Pihak Basarnas tadi telah menyampaikan karena sudah tidak efektif dalam pelaksanaan pencarian, maka operasi SAR ini oleh pihak yang memiliki kewenangan dihentikan," ujar Andra.
