Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)
Tegas, full data, cerdas, petarung yang tangguh. Ideolog yang tak jemu beperang, guru yang tak pernah berhenti. Inilah potret diri Rizal Ramli. Sejauh yang kita baca dan lihat, ia mewariskan banyak pikiran out of the box. Berikut beberapa di antaranya.
Pertama dan paling utama, tesisnya adalah keberdikarian. Di segala bidang. Itulah pondasi agar negeri ini bukan hanya merdeka, tetapi maju dan kuat di dunia. Rizal mendesain Indonesia yang ia cintai "berdikari" secara ekonomi. Dus, kekayaan SDA tidak boleh dijual mentah (anti ekstraktif), uang negara tidak boleh bocor, anti utang yang menjebak/haram, anti impor yang oligopolis, puncaknya rakyat kecil harus jadi prioritas.
Kedua, beyond ekonometrika. Baginya, ilmu ekonomi akan berguna jika ia bekerja melampaui batas-batas ekonomi liberal yang menyiksa. Dengan begitu akan terlihat: siapa ekonom palsu dan siapa ekonom ksatria. Karenanya, semua ekonom harusnya jadi "ekonom kerakyatan" yang keras dan cerdas membela rakyat sehingga harus "data-driven" dan kontra mainstream yang ilusi karena anti Indonesia.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Kwartet Kemiskinan Nasional
Ketiga, menguatkan ekonomi lemah dan menjaga ekonomi yang sudah kuat. Rizal yakin sekali itulah pokok kerja pemerintah. Jika tidak melakukan itu, pemerintah layak diganti. Sebab, prasyarat kemajuan bangsa adalah keberhasilan negara menumpas kemiskinan dan ketimpangan plus pengangguran. Rizal tentu saja menolak liberalisasi sehingga negara harus hadir dan melindungi rakyat kecil, UMKM, petani, nelayan, dll. Pasar harus dikelola sehingga BUMN dan koperasi jadi benteng ekonomi nasional; agen pembangunan di sektor strategis: listrik, pelabuhan, pupuk, semen, dll. Sedangkan koperasi wajib dikuatkan biar jadi penampung hasil UMKM dan petani, untuk melawan tengkulak.
Keempat, praktek ekonomi perlindungan, pengentasan dan pemajuan jauh lebih riil dari teori-teori di atas kertas. Untuk tesis ini, Rizal sering berucap, “tidak ada kepentingan lain yang kita miliki kecuali untuk bangsa dan negara." Rizal ingin menyumbangkan semua tenaga dan pikiran ini untuk kemajuan Indonesia. Untuk Indonesia yang memberikan perlindungan bagi rakyat kecil. Di sini kedaulatan ekonomi, pangan dan energi menjadi trisula yang selalu ia proklamasikan.
Pekiknya selalu keras: stop impor pangan; fokus swasembada beras, jagung, kedelai, daging; subsidi harus langsung ke petani; segerakan hilirisasi; bank harus biayai sektor real, bukan spekulasi; tolak utang luar negeri buat konsumsi. Utang hanya boleh untuk proyek produktif yang hasilnya bisa bayar utang. Itupun harus sangat hati-hati karena bahaya bagi generasi berikutnya.
Kelima, dari ekonom pasar ke ekonom pancasila. Tentu saja, semua ekonom pada awalnya adalah libertarian yang pro pasar. Hal ini karena fakultas ekonomi dan kurikulumnya dikuasai oleh narasi ekonomi pasar. Karena kejeniusan saja, Rizal balik arah: membela rakyat miskin dan melawan oligarki, praktik otoritarianisme, tradisi nepotisme dan agama neokapitalisme sebagai anak kandung para penjajah bin penjarah.
Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Beyond Oligark State
Rizal berseru agar industrialisasi dan hilirisasi SDA segera dikerjakan untuk ciptakan lapangan kerja, nilai tambah, dan devisa di dalam negeri. Hal ini harus diiringi dengan program pajak progresif di mana konglomerat dan oligark bayar lebih besar.
