Ekonomika Pancasila: Menyegarkan Epistemologi Ekopol Pancasila

Rabu 12 Agu 2026, 14:59 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)

Oleh: Yudhie Haryono (CEO Nusantara Centre)

Tanpa sumber, tak ada fondasi. Tanpa fondasi, rapuh jati diri. Kerapuhan jati diri, terjajah abadi. Kita tahu, epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang "bagaimana kita mengetahui sesuatu" dan "dari mana sumber kebenaran itu berasal." Karena alasan itu, menyegarkan ingatan soal epistemologi menjadi maha penting.

Dalam ilmu ekopol, epistemologi menjawab: "Bagaimana cara kita merumuskan kebijakan yang benar bin pener?" Tentu ini hal yang subtantif, strukturalis dan fungsionalis. Tak banyak yang merumuskannya, menyempurnakannya dan memperbaruinya serta menyegarkannya.

Melalui studi yang komprehensif, kita dapati bahwa ekopol Pancasila memiliki epistemologi yang khas dan unik. Ia tidak hanya bersandar pada teori ekonomi Barat-Timur atau perhitungan matematis, tetapi juga pada nilai, hati nurani, dan musyawarah. Dengan kata lain, cara mengetahui "ekonomi yang benar" menurut Pancasila adalah rasa, rasio, etis, etika, moral dan kerakyatan.

Sumber Pengetahuan Ekopol Pancasila

Dalam sejarahnya, terdapat konsensus yang menyatakan ada 4 sumber utama pengetahuan dalam epistemologi Ekopol Pancasila:

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Presiden Prabowo dan Penyehatan Negara

Pertama, nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945 serta peraturan dan perundangan di bawahnya. Kedua, ilmu ekopol modern. Ketiga, kearifan dan kebijaksanaan lokal serta pengalaman bangsa. Keempat, riset, musyawarah dan dialog yang terus menerus. Keempat nilai ini saling menguatkan dan menyempurnakan.

Metode Peroleh Kebenaran Ekopol Pancasila

Metode Ekopol ini memadukan 3 unsur secara resiprokal kritis dalam mendapatkan kebenaran: 1) Rasional, 2) Rasa Keadilan, 3) Iman, moral dan etika.

Rumusnya: Akal + Nurani + Iman. Tanpa salah satunya, kebijakan ekopol akan pincang dan pariferal. Rumus ini berlaku abadi karena bersifat setimbang dan tidak saling menghegemoni apalagi menghilangkan. Ketiganya menghibridasi untuk melahirkan kesetimbangan dan keadilan.

Ciri Khas Epistemologi Ekopol Pancasila

Karena itu, ciri utamanya ada lima yang membedakannya dari selainnya. Kelimanya adalah: 1) Anti sekuler total; 2) Induktif dan deduktif; 3) Orientasi problem solving; 4) Manusiawi; dan 5) Harmoni. Lima hal ini bukan sekedar simbol dan tanda, tetapi saling mengikatkan diri: satu yang lima dan lima yang satu.

Singkatnya, epistemologi ekopol Pancasila mengajarkan bahwa kebenaran ekonomi dan politik tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari keadilan, kesentosaan dan kemaslahatan. Sumber ilmunya plural: dari konstitusi, dari ilmu, dari rakyat, dan dari musyawarah (living traditions).


Berita Terkait


News Update