Ekonomika Pancasila: Mengokohkan Ontologi Ekopol Pancasila

Rabu 29 Jul 2026, 13:56 WIB
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)
Opini Ekonomika Pancasila oleh Yudhie Haryono. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - Setelah Prabowo Subianto terpilih jadi presiden Indonesia, para indonesianis bertanya apa ontologi ekopol Indonesia? Mereka menilai, presiden punya pandangan tersendiri dari ahli ekopol umum Indonesia.

Bagaimana menjawab pertanyaan ini? Mari kita mulai dari terminologi dahulu. Ontologi adalah sumber, pondasi dan muasal. Ini cabang filsafat yang membahas tentang “ Hakikat sesuatu yang benar-benar ada."

Dalam konteks ekopol, ontologi menjawab pertanyaan: "Apa hakikat manusia, sumber daya, dan tujuan ekopol tersebut?”

Tentu saja, ekopol Pancasila memiliki ontologi yang berbeda dengan kapitalisme dan sosialisme. Sebab, ia tidak menempatkan manusia sebagai mesin pencari keuntungan semata, juga bukan robot yang statis, melainkan sebagai makhluk yang utuh: jasmani-rohani, individu-sosial, dan bertuhan.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Ekonom dan Ekonomi Mafia

Karenanya, ontologi ini bersumber langsung dari nilai-nilai Pancasila dan Pasal 23, 27, 28, 33 UUD 1945. Singkatnya, ekopol pancasila berpusat pada orientasi warganegara yang menempatkan negara sebagai kekuatan peneguhnya dan mengakui pasar sosial sebagai instrumen pentradisinya serta semesta sebagai sandaran harmonisasinya.

Berikut soal hakikat manusia dalam ekopol Pancasila adalah memimpin hubungan harmonis serta resiprokal antara semesta, Tuhan dan sesamanya.

Ini penting sebab dalam kapitalisme, manusia dipandang sebagai "homo economicus" yang paling penting, rasional dan egois. Sedangkan dalam sosialisme, manusia dipandang sebagai bagian dari kelas yang tidak terlalu mempedulikan nilai-nilai eskataligis.

Berbeda dengan keduanya, ontologi Ekopol Pancasila memandang manusia secara integral. Manusia memiliki 3 dimensi hubungan (theoantroeco centrism): hubungan vertikal; hubungan horizontal; dan hubungan dengan alam raya.

Baca Juga: Ekonomika Pancasila: Percakapan Ekonom-Politik Indonesia Terbaru

Jadi, manusia bukan hanya "faktor produksi" dan "objek independen" tetapi subjek utama pembangunan yang membersamai menuju cita peradaban agung.


Berita Terkait


News Update