Lapangan Pekerjaan Sulit, Ribuan Sarjana di Kabupaten Tangerang Masih Nganggur

Rabu 19 Agu 2026, 13:01 WIB
Ilustrasi pengangguran di tingkat sarjana. (Sumber: Magnific/jcomp)
Ilustrasi pengangguran di tingkat sarjana. (Sumber: Magnific/jcomp)

TANGERANG, POSKOTA.CO.ID - Banyaknya jumlah pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi kini menjadi polemik yang mesti dihadapi oleh mahasiswa dan calon wisudawan yang bersiap masuk dunia kerja.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Tangerang mencatat sebanyak 3.567 orang lulusan sarjana belum memiliki pekerjaan.

Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Tangerang, Masayu Nourma Yunita Sari mengatakan angka tersebut berasal dari total 128.865 angkatan kerja berpendidikan sarjana yang tercatat pada tahun 2025.

Baca Juga: Dua Pria Pengangguran di Jakbar Nekat Curi Kabel PLN

Dari jumlah tersebut diketahui sebanyak 3.567 orang belum memiliki pekerjaan, sementara sisanya saat ini telah bekerja.

"Di tahun 2025, pengangguran yang sarjana di Kabupaten Tangerang ada 3.567 dan yang sudah bekerja 125.298," kata Masayu kepada Pos Kota, Rabu, 19 Agustus 2026.

BPS Kabupaten Tangerang juga mencatat pada tahun 2024 terdapat 8.555 pengangguran dengan tingkat pendidikan sarjana.

Dari catatan tahun sebelumnya disebutkan, jumlah pengangguran lulusan sarjana berkurang sekira 4.988 orang di tahun 2025.

Baca Juga: Modus Komplotan Pengangguran di Bekasi Pilih Begal Saat Bulan Puasa

Penurunan juga terlihat dari angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk lulusan sarjana. Pada 2024, TPT sarjana tercatat sebesar 5,77 persen, kemudian turun menjadi 2,77 persen pada 2025.

"Jumlah tingkat pengangguran terbuka (TPT) Sarjana juga mengalami penurunan, dari yang 5,77 persen pada tahun 2024 menjadi 2,77 persen di tahun 2025," tuturnya.

Kesenjangan Kompetensi

Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Dr. Tadjuddin Noer Effendi menilai meningkatnya jumlah pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi bukan hanya karena terbatasnya lapangan pekerjaan.

Lebih jauh, adanya persoalan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.

Baca Juga: Tak Punya Izin Praktik, Dokter Gadungan di Bekasi Ini Awalnya Cuma Pengangguran

Hal tersebut yang menjadi penyebab sulitnya sarjana untuk memasuki dunia kerja. Pasalnya, pendidikan hanya memberikan teori, sedangkan dunia kerja butuh tenaga yang memiliki keterampilan praktis.

“Pada umumnya, sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan keterampilan,” ucapnya dikutip dari laman UGM pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Selain persoalan kompetensi, Tadjuddin juga menyoroti terkait struktur ekonomi Indonesia yang belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas, khususnya pada sektor industri.

Ia menyebut industri padat karya yang selama ini menjadi salah satu penyerap tenaga kerja menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat.

Baca Juga: Nekat! Bawa Senpi Mainan, Pemuda Pengangguran Coba Curi Motor di Parkiran SD

“Kondisi ini mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja (PHK),” tuturnya.

Meski begitu, ia menilai program magang pemerintah merupakan langkah yang baik untuk membantu lulusan memiliki pengalaman dan keterampilan kerja.

Tetapi daya tampung, program tersebut masih terlaku kecil dibanding pengangguran terdidik saat ini.

Oleh karena itu, ia mendorong agar memperluas pusat pelatihan kerja modern yang memiliki orientasi kebutuhan industri.

“Perlu pusat pelatihan yang dapat menjadi jalan lebih cepat untuk meningkatkan keterampilan lulusan, khususnya bagi sarjana yang belum terserap pasar kerja,” ujarnya.


Berita Terkait


News Update