KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah DKI Jakarta rupanya belum cukup ampuh mengusir polusi. Pada Kamis, 20 Agustus 2026 siang, kualitas udara Jakarta justru memburuk hingga menempati posisi kedua sebagai kota dengan udara terburuk di dunia, berada tepat di bawah Kuching, Malaysia.
Berdasarkan pantauan situs pemantau kualitas udara IQAir pukul 12.00 WIB, Indeks Kualitas Udara (AQI) Jakarta menembus angka 161. Tingkat polusi ini didominasi oleh polutan PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 70 mikrogram per meter kubik dan masuk dalam kategori tidak sehat bagi seluruh kelompok masyarakat.
Dengan capaian tersebut, tingkat polusi Jakarta hari ini bahkan melampaui sejumlah kota dunia yang kerap diidentikkan dengan masalah udara kronis, seperti New Delhi (India), Beijing (China), dan Dhaka (Bangladesh).
IQAir memprediksi kondisi udara tidak sehat ini akan bertahan hingga sore hari. Indeks AQI diperkirakan berada di angka 157 pada pukul 13.00 WIB, sedikit turun ke 155 pada pukul 14.00–15.00 WIB, lalu kembali melonjak ke angka 158 pada pukul 16.00 WIB.
Baca Juga: Kualitas Udara Jakarta Hari Ini 14 Agustus 2026 Masuk 5 Terburuk Dunia, Cek AQI dan Polusinya
Kondisi ini diperberat oleh suhu udara sekitar 31 derajat Celsius, kelembapan 53 persen, dan kecepatan angin lambat di angka 9 km/jam.
Dampak Langsung bagi Pekerja Lapangan
Buruknya kualitas udara yang tak kunjung membaik usai hujan mengundang keluhan dari para pekerja luar ruangan. Hamdan, 36 tahun, seorang pengemudi ojek online yang sehari-hari beroperasi di jalanan ibu kota, mengaku langit Jakarta masih terlihat sangat kusam dan berdebu.
"Hujan memang sempat turun, tapi setelah itu udara masih terasa kotor dan langit kelihatan berkabut. Kami yang setiap hari di jalan tentu paling merasakan dampaknya," ujar pria dua anak tersebut.
Hal senada diungkapkan Rinda, 26 tahun, seorang jurnalis yang harus bermobilisasi ke berbagai titik liputan. Ia menilai penanganan polusi udara tidak boleh hanya menjadi isu musiman yang ramai dibicarakan saat angka AQI melonjak, tetapi harus dibenahi secara berkelanjutan.
"Saat liputan di luar ruangan, kondisi udara terasa sangat tidak nyaman. Perlu ada langkah yang lebih serius dari pemerintah untuk mengendalikan polusi Jakarta," tegas Rinda.
