Lapangan Pekerjaan Sulit, Ribuan Sarjana di Kabupaten Tangerang Masih Nganggur

Rabu 19 Agu 2026, 13:01 WIB
Ilustrasi pengangguran di tingkat sarjana. (Sumber: Magnific/jcomp)
Ilustrasi pengangguran di tingkat sarjana. (Sumber: Magnific/jcomp)

Guru Besar Fisipol UGM sekaligus pengamat ketenagakerjaan, Dr. Tadjuddin Noer Effendi menilai meningkatnya jumlah pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi bukan hanya karena terbatasnya lapangan pekerjaan.

Lebih jauh, adanya persoalan ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.

Baca Juga: Tak Punya Izin Praktik, Dokter Gadungan di Bekasi Ini Awalnya Cuma Pengangguran

Hal tersebut yang menjadi penyebab sulitnya sarjana untuk memasuki dunia kerja. Pasalnya, pendidikan hanya memberikan teori, sedangkan dunia kerja butuh tenaga yang memiliki keterampilan praktis.

“Pada umumnya, sarjana itu datang bawa ijazah ke perusahaan, bukan keterampilan,” ucapnya dikutip dari laman UGM pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Selain persoalan kompetensi, Tadjuddin juga menyoroti terkait struktur ekonomi Indonesia yang belum mampu menciptakan lapangan pekerjaan berkualitas, khususnya pada sektor industri.

Ia menyebut industri padat karya yang selama ini menjadi salah satu penyerap tenaga kerja menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya bahan baku impor dan melemahnya daya beli masyarakat.

Baca Juga: Nekat! Bawa Senpi Mainan, Pemuda Pengangguran Coba Curi Motor di Parkiran SD

“Kondisi ini mendorong perusahaan melakukan efisiensi, termasuk mengurangi jumlah tenaga kerja (PHK),” tuturnya.

Meski begitu, ia menilai program magang pemerintah merupakan langkah yang baik untuk membantu lulusan memiliki pengalaman dan keterampilan kerja.

Tetapi daya tampung, program tersebut masih terlaku kecil dibanding pengangguran terdidik saat ini.

Oleh karena itu, ia mendorong agar memperluas pusat pelatihan kerja modern yang memiliki orientasi kebutuhan industri.


Berita Terkait


News Update