BANDUNG BARAT, POSKOTA.CO.ID - Sudah hampir sepekan aliran Sungai Cihaur di Kampung Pangkalan, RT 03/13, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), berubah warna sekaligus menimbulkan bau yang menyengat.
Warga menduga, air di sungai itu tercemar limbah industri, bahkan warga mengaku beberapa kali melihat kepulan seperti asap dari aliran limbah.
Kondisi pencemaran tersebut terjadi di saluran pembuangan berukuran besar yang berada di sisi Sungai Cihaur. Cairan berwarna merah tampak mengalir cukup deras dari saluran yang tertanam di bawah tanah sebelum masuk ke badan sungai.
Aliran Sungai Cihaur sendiri merupakan bagian dari daerah aliran Sungai (DAS) Citarum dan bermuara ke Waduk Saguling. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran warga karena limbah yang masuk ke sungai berpotensi memperluas dampak pencemaran ke kawasan hilir.
Baca Juga: Muncul Bau Tak Sedap di Pandeglang, Diduga Buntut Saluran Limbah Dapur MBG
Warga mengaku kondisi tersebut bukan persoalan baru. Pencemaran disebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan terjadi hampir setiap hari.
Salah seorang warga yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani di sekitar bantaran Sungai Cihaur, Didin 50 tahun mengatakan, pencemaran telah berlangsung sekitar 25 tahun.
“Sudah lama kondisi limbah masuk sini, hampir 25 tahun terakhir. Beberapa kali ditinjau petugas Satgas, lalu lokasi pembuangannya dipindahkan. Setelah itu, sekarang kembali seperti ini, berbusa,” kata Didin.
Didin mengaku tidak mengetahui secara pasti perusahaan atau pihak yang menjadi sumber pembuangan limbah tersebut.
Baca Juga: DLH DKI Ajak Warga Terapkan EcoQurban, Kurangi Sampah dan Limbah Iduladha
Namun, berdasarkan informasi yang berkembang di masyarakat, limbah diduga berkaitan dengan aktivitas industri pencelupan kain.
Menurutnya, warna air sungai juga kerap berubah. Tidak hanya merah, air terkadang berwarna hitam hingga putih.
"Dari dulu warna airnya tidak berubah, cuma kadang merah, hitam, dan putih. Beberapa tahun lalu bahkan sempat mengeluarkan asap," kata Didin.
Dia dan warga lainnya merasa aneh lantaran sungai tersebut bisa mendadak bersih apabila ada pengambilan sampel dari pihak terkait.
Baca Juga: Pabrik Pengolahan Limbah Medis di Bogor Disegel DLH karena Cemari Lingkungan
Menurut Didin, air biasanya terlihat lebih baik ketika akhir pekan atau saat terdapat aktivitas pengambilan sampel air oleh pihak perusahaan.
"Anehnya pas hari Minggu kemarin atau saat petugas dari pabrik mau mengambil sampel air, debitnya jadi kecil, busanya juga tidak ada. Tapi kalau sudah selesai, kembali lagi seperti ini," ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, semakin membuat warga khawatir karena pencemaran bukan hanya mengubah kondisi fisik sungai, tetapi juga memengaruhi ekosistem.
Populasi ikan disebut terus menyusut. Bahkan, menurut warga, hanya jenis ikan tertentu yang masih mampu bertahan di aliran Sungai Cihaur.
Baca Juga: DLH Purwakarta Petakan 3 Kecamatan Rentan Sengketa Pengelolaan Limbah
"Akibatnya, ikan yang ada di aliran sungai ini pada mati," katanya.
Dampak pencemaran juga dirasakan para petani. Didin mengaku tidak berani menggunakan air Sungai Cihaur untuk menyiram tanaman palawija karena khawatir merusak tanaman.
"Saya tidak berani memakai air sungai ini untuk menyiram daun tanaman palawija. Kalau terkena daun, langsung layu," tambahnya.
Sementara itu, keluhan serupa disampaikan warga lainnya Ajo, 40 tahun. Kata dia, untuk menghindari dampak pencemaran, dia memilih mengambil air dari bagian hulu sungai yang lokasinya cukup jauh dari saluran pembuangan limbah.
Baca Juga: Ketua RW Bojong Menteng Bekasi Akui Banyak Warga Keluhkan Bau Limbah Dapur MBG
Langkah tersebut dilakukan agar tanaman palawija miliknya tetap aman hingga memasuki masa panen.
"Harapannya, pemerintah tidak hanya melakukan peninjauan, tetapi mengambil tindakan nyata untuk menghentikan dugaan pencemaran Sungai Cihaur," kata Ajo.
Menurutnya, persoalan tersebut sudah menyentuh kehidupan warga karena sungai selama ini menjadi salah satu sumber pendukung aktivitas pertanian dan kehidupan masyarakat sekitar.
"Sungai tercemar merugikan petani dan nelayan. Ikan juga semakin sulit dipancing," ucapnya.
Baca Juga: Kasus Korupsi Ekspor Limbah Sawit, Pejabat Bea Cukai Berpeluang Diperiksa
Lebih mengkhawatirkan, Ajo mengaku pernah melihat ikan mati secara massal di Sungai Cihaur sekitar setahun lalu.
"Saya sempat melihat ikan mati massal di sini. Sampai dapat ikan satu karung. Kalau sekarang sudah tidak ada lagi kasus ikan mati, mungkin karena ikannya memang sudah tidak ada," tuturnya.
Dugaan pencemaran Sungai Cihaur menjadi ironi lantaran, sungai tersebut merupakan bagian dari DAS Citarum yang selama bertahun-tahun menjadi sasaran program pemulihan lingkungan.
Berbagai program telah digulirkan untuk mengembalikan kualitas Sungai Citarum, mulai dari Citarum Bergetar, Citarum Berseri hingga program Citarum Harum.
Namun, warga mengaku masih menghadapi persoalan pencemaran yang sama secara berulang.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan instansi terkait untuk memastikan sumber pencemaran, melakukan pengujian kualitas air secara transparan, serta mengambil langkah tegas apabila ditemukan pelanggaran lingkungan.
Warga pun berharap Sungai Cihaur tidak sekadar menjadi objek peninjauan ketika laporan pencemaran muncul, tetapi benar-benar mendapatkan penanganan hingga kualitas air dan ekosistemnya kembali pulih.
