Menurutnya, warna air sungai juga kerap berubah. Tidak hanya merah, air terkadang berwarna hitam hingga putih.
"Dari dulu warna airnya tidak berubah, cuma kadang merah, hitam, dan putih. Beberapa tahun lalu bahkan sempat mengeluarkan asap," kata Didin.
Dia dan warga lainnya merasa aneh lantaran sungai tersebut bisa mendadak bersih apabila ada pengambilan sampel dari pihak terkait.
Baca Juga: Pabrik Pengolahan Limbah Medis di Bogor Disegel DLH karena Cemari Lingkungan
Menurut Didin, air biasanya terlihat lebih baik ketika akhir pekan atau saat terdapat aktivitas pengambilan sampel air oleh pihak perusahaan.
"Anehnya pas hari Minggu kemarin atau saat petugas dari pabrik mau mengambil sampel air, debitnya jadi kecil, busanya juga tidak ada. Tapi kalau sudah selesai, kembali lagi seperti ini," ungkapnya.
Kondisi tersebut, lanjut dia, semakin membuat warga khawatir karena pencemaran bukan hanya mengubah kondisi fisik sungai, tetapi juga memengaruhi ekosistem.
Populasi ikan disebut terus menyusut. Bahkan, menurut warga, hanya jenis ikan tertentu yang masih mampu bertahan di aliran Sungai Cihaur.
Baca Juga: DLH Purwakarta Petakan 3 Kecamatan Rentan Sengketa Pengelolaan Limbah
"Akibatnya, ikan yang ada di aliran sungai ini pada mati," katanya.
Dampak pencemaran juga dirasakan para petani. Didin mengaku tidak berani menggunakan air Sungai Cihaur untuk menyiram tanaman palawija karena khawatir merusak tanaman.
"Saya tidak berani memakai air sungai ini untuk menyiram daun tanaman palawija. Kalau terkena daun, langsung layu," tambahnya.
