Obrolan Warteg: Pemilihan Ketua OSIS Tak Ubahnya Miniatur Pemilu

Rabu 29 Jul 2026, 06:00 WIB
Ilustrasi Obrolan Warteg, Rabu, 29 Juli 2026. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Obrolan Warteg, Rabu, 29 Juli 2026. (Sumber: Poskota)

Oleh : Joko Lestari

POSKOTA.CO.ID – Pendidikan politik kepada para pelajar SLTA dilakkan dengan berbagai pola, satu di antaranya melalui pemilihan ketua OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah).

Pemilihan ketua OSIS melalui tahapan menyerupai proses pemilihan umum maupun, baik pilpres maupun pilkada.

Dimulai dari pembentukan komisi pemilihan ketua OSIS, sosialisasi, pembentukan panitia pemilihan ketua OSIS, petugas pengawas, pemutakhiran data pemilih, pencalonan, penetapan calon dan pengundian nomor urut.

“Ada masa kampanye nggak?” ujar  bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Korupsi Kepala Daerah Marak, Salah Siapa?

“Ada kampanye bagi para calon ketua OSIS. Ada juga masa tenang, sebelum pemungutan suara yang berlanjut dengan penghitungan , rekapitulasi dan penetapan pemenang,” urai mas Bro.

“Wah nggak ada bedanya dengan pilkada ya. Boleh juga pendidikan politik dengan pola demikian. Ini pemilihan ketua OSIS di mana Bro?” tanya Yudi.

“Pemilihan ketua OSIS tersebut diinisiasi oleh KPU Kabupaten Kudus. Pemilihan dilakukan serentak di 91 sekolah tingkat SLTA se Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada hari Rabu,16 September 2026,” jelas mas Bro.

“Serupa dengan pilkada serentak. Hari pemilihan juga sama.Pilkada lalu digelar serentak pada Rabu ,27 November 2024,” celatuk Yudi.

Baca Juga: Obrolan Warteg: Sekolah Kekurangan Murid, Alarm Dunia Pendidikan

“Soal hari yang sama, mungkin kebetulan. Yang jelas,dengan pengalaman mengikuti pemilihan ketua OSIS yang menyerupai pemilu. para siswa diharapkan memahami hak dan kewajiban sebagai pemilih. Terlebih sebagian besar dari mereka akan menjadi pemilih pemula Pemilu 2029,” urai mas Bro.

“Dapat dikatakan pemilihan ketua OSIS ini tak ubahnya miniatur pemilu sehingga para siswa memperoleh pengalaman berdemokrasi sejak di bangku sekolah,” kata Heri.

“Tentu demokrasi dengan menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan guna menciptakan pemilu yang jurdil, objektif, netral dan transparan serta bebas dari transaksi politik uang. Ini juga hendaknya menjadi bagian tak terpisahkan dari edukasi politik,” kata Yudi.

“Kita berharap para pelajar SLTA yang nantinya akan menjadi pemilih pemula, bakal tampil sebagai pelopor antipolitik uang dalam gelaran pemilu 2029, baik pilpres, pileg maupun pilkada di daerahnya. Mereka pula generasi muda yang akan mengawaki Indonesia Emas 2045,” ujar  mas Bro.

Baca Juga: Obrolan Warteg: MBG Bukan Program Ujug-Ujug

“Keteguhan hati antipolitik uang ini akan berlanjut menjadi menjadi kesadaran diri, hingga saatnya tampil bukan hanya sebagai pemilih, tetapi kandidat yang dipilih rakyat sebagai caleg, cawalkot, cabup, cagub  hingga capres,” kata Heri.

“Jika semua kandidat antipolitik uang, anti suap menyuap, diharapkan akan menghasilkan pemilu yang tidak sebatas memenuhi asas legalitas formal, juga legalitas moral,” kata Yudi.

“Semoga harapan menjadi kenyataan,” ujar mas Bro.


Berita Terkait


News Update