Oleh: Joko Lestari
POSKOTA.CO.ID - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan, lebih dari 75 persen sungai di Indonesia terdampak pencemaran sedang hingga berat dari limbah domestik, industri, dan ekspansi aktivitas ekonomi tanpa pengelolaan limbah yang baik.
Data lain menyebutkan sekitar 70 ribu sungai di Indonesia, ribuan sudah hilang akibat berbagai faktor, di antaranya alih fungsi lahan dan pembangunan, di samping makin berkurangnya aliran sumber air dari hulu. Akibatnya sungai menjadi kering tanpa air, babak berikutnya beralih fungsi menjadi lahan pertanian, dan tak sedikit didirikan bangunan.
“Tumben kalian ngobrolin soal sungai yang kian menyusut. Tak hanya jumlahnya, juga airnya menyurut, lebarnya menyusut,” ujar bung Heri mengawali obrolan warteg bersama sohibnya, mas Bro dan bang Yudi.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Sudah Mundur Masih Terima Gaji, Ini Penjelasannya
"Kalian lupa hari ini, 27 Juli diperingati sebagai Hari Sungai Nasional,” kata Yudi.
“Tujuan pemerintah menetapkan Hari Sungai Nasional agar masyarakat kembali menengok sungai yang dahulunya merupakan pusat peradaban dan sejarah nusantara bukan sekadar menganggapnya sebagai ‘tempat sampah raksasa’,” jelas mas Bro.
“Betul juga Bro. Kondisi sungai sekarang, bukannya penuh dengan air jernih, tetapi timbunan sampah. Akibatnya ketika hujan datang, banjir pun menerjang,” tambah Heri.
“Dulu di kampun-kampung sungai menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat. Bukan saja airnya yang digunakan untuk berbagai keperluan seperti sumber pasokan untuk irigasi, penampung air hujan, juga ikan yang hidup di dalamnya sebagai sumber nutrisi,” urai mas Bro.
Baca Juga: Obrolan Warteg: Sekolah Pencetak Calon Pemimpin Bangsa
“Kini, semua tinggal kenangan, kecuali sebagai penampung air hujan. Itu umumnya sungai-sungai yang ada di kampung. Di kawasan perkotaan lain lagi, umumnya sudah tertutup beton,” kata Heri.
