POSKOTA.CO.ID - Ketegangan geopolitik global kembali memanas setelah China melontarkan kritik tajam terhadap Amerika Serikat (AS).
Beijing secara terbuka menuding Washington sebagai negara yang memiliki “kecanduan perang” dan menjadi sumber utama instabilitas dunia.
Pernyataan keras tersebut muncul menyusul keterlibatan AS bersama Israel dalam serangan militer terhadap Iran.
Sikap China menandai babak baru dalam rivalitas dua kekuatan besar dunia di tengah situasi Timur Tengah yang kian bergejolak.
Baca Juga: Profil Mojtaba Khamenei: Putra Ali Khamenei yang Digadang Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
China Nilai AS Sumber Ketegangan Global
Juru Bicara Kementerian Pertahanan China, Kolonel Wu Qian, menyampaikan kecaman resmi terhadap kebijakan luar negeri AS.
Ia menyebut rekam jejak militer Washington selama lebih dari dua abad menunjukkan pola agresivitas yang konsisten.
“Dalam lebih dari 240 tahun berdiri, Amerika Serikat hanya menikmati sekitar 16 tahun tanpa perang,” ujar Wu dalam pernyataan pada Selasa, 3 Maret 2026.
Menurutnya, data historis tersebut menjadi bukti bahwa AS lebih sering terlibat konflik ketimbang berperan sebagai penjaga perdamaian internasional.
Baca Juga: Balas Dendam Iran Makin Ganas, Gelombang Serangan ke-9 Sasar Israel dan Target AS
Beijing bahkan menilai Washington sebagai aktor di balik layar yang kerap memperkeruh stabilitas regional demi kepentingan hegemoninya.
Sorotan terhadap 800 Pangkalan Militer AS

China juga menyinggung keberadaan lebih dari 800 pangkalan militer AS yang tersebar di lebih dari 80 negara. Skala kehadiran militer tersebut dinilai memicu konflik berkepanjangan di sejumlah kawasan.
Beijing mengaitkan jejak intervensi AS di Afghanistan, Irak, Suriah, hingga Libya sebagai contoh konkret dampak dari kebijakan militer global Washington.
Wu bahkan menyindir klaim AS sebagai pembela hak asasi manusia. “Apakah ini kabar baik yang dibawa oleh negara yang mengaku sebagai penjaga HAM?” ujarnya.
Standar Ganda dan Pengiriman Senjata
Selain soal pangkalan militer, China menuding AS menerapkan standar ganda dalam konflik internasional.
Baca Juga: Update Terbaru Perang Iran vs AS-Israel: Ribuan Target Diserang, Pasar Global Bergejolak
Beijing menyoroti pengiriman amunisi uranium terdeplesi dan bom tandan ke Ukraina, serta dukungan persenjataan berkelanjutan ke Israel.
Langkah Washington mengerahkan kelompok tempur kapal induk ke kawasan Mediterania juga dinilai sebagai eskalasi yang memperbesar potensi konfrontasi terbuka.
Di kawasan Asia-Pasifik, peningkatan kerja sama keamanan yang digagas AS disebut memperuncing rivalitas blok dan memicu perlombaan senjata baru yang berisiko merusak stabilitas regional.
Kemitraan Strategis China-Iran
Di tengah kritik keras terhadap AS, hubungan China dan Iran justru semakin erat. Teheran menjadi salah satu mitra strategis Beijing, terutama dalam sektor energi dan pertahanan.
China diketahui menampung lebih dari 80 persen ekspor minyak mentah Iran. Selain itu, Iran juga menjadi pembeli utama sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan China.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai kecil kemungkinan Beijing akan terlibat langsung dalam konflik bersenjata tersebut. Secara teknis, kemampuan proyeksi kekuatan militer China dinilai masih terbatas untuk melakukan intervensi jarak jauh secara besar-besaran dari wilayahnya.
Pernyataan terbaru China ini semakin mempertegas rivalitas strategis antara dua kekuatan utama dunia. Di tengah konflik Timur Tengah yang terus membara, dinamika hubungan AS, China, dan Iran diprediksi akan menjadi salah satu faktor penentu arah stabilitas global dalam waktu dekat.
