China juga menyinggung keberadaan lebih dari 800 pangkalan militer AS yang tersebar di lebih dari 80 negara. Skala kehadiran militer tersebut dinilai memicu konflik berkepanjangan di sejumlah kawasan.
Beijing mengaitkan jejak intervensi AS di Afghanistan, Irak, Suriah, hingga Libya sebagai contoh konkret dampak dari kebijakan militer global Washington.
Wu bahkan menyindir klaim AS sebagai pembela hak asasi manusia. “Apakah ini kabar baik yang dibawa oleh negara yang mengaku sebagai penjaga HAM?” ujarnya.
Standar Ganda dan Pengiriman Senjata
Selain soal pangkalan militer, China menuding AS menerapkan standar ganda dalam konflik internasional.
Baca Juga: Update Terbaru Perang Iran vs AS-Israel: Ribuan Target Diserang, Pasar Global Bergejolak
Beijing menyoroti pengiriman amunisi uranium terdeplesi dan bom tandan ke Ukraina, serta dukungan persenjataan berkelanjutan ke Israel.
Langkah Washington mengerahkan kelompok tempur kapal induk ke kawasan Mediterania juga dinilai sebagai eskalasi yang memperbesar potensi konfrontasi terbuka.
Di kawasan Asia-Pasifik, peningkatan kerja sama keamanan yang digagas AS disebut memperuncing rivalitas blok dan memicu perlombaan senjata baru yang berisiko merusak stabilitas regional.
Kemitraan Strategis China-Iran
Di tengah kritik keras terhadap AS, hubungan China dan Iran justru semakin erat. Teheran menjadi salah satu mitra strategis Beijing, terutama dalam sektor energi dan pertahanan.
China diketahui menampung lebih dari 80 persen ekspor minyak mentah Iran. Selain itu, Iran juga menjadi pembeli utama sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) buatan China.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai kecil kemungkinan Beijing akan terlibat langsung dalam konflik bersenjata tersebut. Secara teknis, kemampuan proyeksi kekuatan militer China dinilai masih terbatas untuk melakukan intervensi jarak jauh secara besar-besaran dari wilayahnya.
Pernyataan terbaru China ini semakin mempertegas rivalitas strategis antara dua kekuatan utama dunia. Di tengah konflik Timur Tengah yang terus membara, dinamika hubungan AS, China, dan Iran diprediksi akan menjadi salah satu faktor penentu arah stabilitas global dalam waktu dekat.
