POSKOTA.CO.ID - Kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian dunia setelah Iran melontarkan ancaman serius terkait jalur pelayaran internasional paling strategis, Selat Hormuz. Ancaman tersebut langsung mengguncang pasar energi global karena selat ini merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.
Situasi memanas menyusul meningkatnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada, 28 Februari 2026.
Pernyataan keras dari Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang mengancam akan menyerang kapal yang melintas di Selat Hormuz memicu kekhawatiran akan krisis energi global.
Ketegangan ini mencapai titik krusial pada 2 Maret 2026 ketika Iran mulai menggunakan tekanan ekonomi sebagai bagian dari strategi politik internasionalnya. Para analis pun memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan efek domino terhadap ekonomi dunia.
Baca Juga: Pertahanan Udara Kuwait Salah Tembak 3 Jet Tempur F-15E Milik AS, Ini Kronologi Lengkapnya
Sebelum memahami dampak besarnya, penting untuk mengetahui mengapa Selat Hormuz disebut sebagai “pertaruhan” pasokan energi global.
Apa Itu Selat Hormuz?

Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit yang menjadi penghubung antara Teluk Persia dan Teluk Oman sebelum kapal memasuki perairan internasional. Secara geografis, wilayah ini berada di antara Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di bagian selatan.
Pada titik tersempitnya, lebar Selat Hormuz hanya sekitar 33 kilometer. Meski sempit, jalur ini memiliki peran luar biasa besar dalam perdagangan energi dunia.
Selat ini dikenal sebagai jalur ekspor minyak paling penting di dunia karena sebagian besar produksi energi negara-negara Teluk bergantung pada rute tersebut.
Baca Juga: Balas Dendam Iran Makin Ganas, Gelombang Serangan ke-9 Sasar Israel dan Target AS
Fakta Penting Selat Hormuz
- Lebar tersempit sekitar 33 kilometer
- Menghubungkan Teluk Persia ke jalur laut internasional
- Menjadi rute utama ekspor minyak global
- Dilalui kapal tanker minyak setiap hari
Berdasarkan data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA), sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada 2024. Jumlah tersebut setara dengan hampir 20 persen konsumsi minyak dunia. Nilai perdagangan energi yang melintasi selat ini diperkirakan mencapai hampir USD600 miliar setiap tahun.
