Dua Kapal Pertamina Tertahan di Selat Hormuz, Pemerintah Lakukan Diplomasi dan Alihkan Impor Minyak ke AS

Rabu 04 Mar 2026, 12:30 WIB
Ilustrasi. Selat Hormuz terdampa, pemerintah Indonesia upayakan diplomasi pembebasan kapal Pertamina sekaligus mengalihkan sebagian impor minyak ke AS. (Sumber: Dok. PT Pertamina International Shipping (PIS))

Ilustrasi. Selat Hormuz terdampa, pemerintah Indonesia upayakan diplomasi pembebasan kapal Pertamina sekaligus mengalihkan sebagian impor minyak ke AS. (Sumber: Dok. PT Pertamina International Shipping (PIS))

POSKOTA.CO.ID - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berdampak langsung terhadap jalur perdagangan energi dunia. Indonesia pun ikut merasakan imbasnya setelah dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) tertahan di perairan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling vital secara global.

Pemerintah bergerak cepat merespons situasi tersebut. Upaya diplomasi langsung dilakukan guna memastikan keselamatan awak kapal sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi nasional agar tidak terganggu di tengah situasi global yang tidak menentu.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah terus mengupayakan penyelesaian melalui jalur komunikasi internasional.

Fokus utama saat ini adalah membuka akses keluar bagi kapal tanker Pertamina yang membawa minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri.

Baca Juga: Ancaman Rudal Iran Meningkat, Cristiano Ronaldo Amankan Jet Pribadinya ke Madrid

Pemerintah Tempuh Jalur Diplomasi

Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah tengah mengupayakan jalur diplomasi untuk membebaskan dua kapal milik PT Pertamina International Shipping yang terjebak di perairan Selat Hormuz, kawasan yang dalam beberapa hari terakhir memanas akibat eskalasi konflik regional.

Dua kapal tersebut diketahui mengangkut minyak mentah (crude oil) yang menjadi bagian dari rantai pasok energi nasional. Situasi di jalur laut strategis itu membuat pergerakan kapal-kapal tanker terganggu, termasuk milik Indonesia.

“Kami lagi upaya diplomasi agar ada cara yang lebih baik untuk mereka bisa dikeluarkan,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Selasa 3 Maret 2026.

Koordinasi dilakukan antara Kementerian ESDM, Kementerian Luar Negeri, serta manajemen PT Pertamina Persero untuk memastikan keselamatan awak kapal sekaligus menjaga ketahanan energi nasional.

Baca Juga: Bendera Merah Iran Berkibar, Kapolri Perintahkan Densus 88 Perkuat Deteksi Dini

Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Energi Dunia

Selat Hormuz selama ini dikenal sebagai salah satu choke point terpenting dalam perdagangan minyak dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global melintas di jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.


Berita Terkait


News Update