JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Badan Metrologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi cuaca ekstrem masih akan terjadi selama awal Bulan Suci Ramadhan di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani menyampaikan, dalam sepekan ke depan wilayah DKI Jakarta berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
"Dalam sepekan ke depan periode 19-25 Februari 2026, terdapat potensi hujan ringan hingga sedang di wilayah DK Jakarta," ujar Ida kepada Poskota, Kamis, 19 Februari 2026.
Berdasarkan prediksi iklim curah hujan bulanan, pada Februari ini di Indonesia secara umum berada pada kategori rendah hingga tinggi.
Baca Juga: Bulog Pastikan Stok Beras dan Minyak Goreng di Jakarta Aman
Ida mengatakan, beberapa wilayah bahkan berpeluang mengalami curah hujan sangat tinggi lebih dari 500 milmeter per bulan.
"Berpeluang terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah, NTT, dan Sulawesi Selatan, kemudian pada Maret 2026 umumnya diprediksi hujan pada kategori menengah hingga tinggi," kata Ida.
Lebih lanjut, secara umum wilayah yang relatif lebih rawan mengalami hujan deras adalah daerah lokasi pertumbuhan awan konvektif intens dan penguatan hujan orografis.
"Seperti wilayah pesisir barat maupun wilayah pegunungan dan lereng, sementara potensi angin kencang lebih sering meningkat di wilayah pesisir dan perairan terbuka serta di sekitar awan badai/hujan lebat yang dapat memicu hembusan angin tiba-tiba pada skala lokal," ungkap Ida.
Baca Juga: Majikan Aniaya ART di Bogor hingga Luka-luka, Begini Penjelasan Polisi
Ida menjelaskan, potensi hujan yang signifikan dalam beberapa hari terakhir dipicu oleh perubahan cepat dalam dinamika atmosfer yang menyebabkan awan hujan berkembang lebih intensif di beberapa daerah.
"Analisis terbaru menunjukkan bahwa peningkatan hujan yang terjadi berkaitan dengan penguatan Monsun Asia, yang membawa angin baratan yang kencang, mempercepat pembentukan awan konvektif di wilayah barat dan selatan Indonesia," katanya.
Selain itu, anomali Outgoing Longwave Radiation (OLR) yang menunjukkan nilai negatif di beberapa area Indonesia menandakan bahwa tutupan awan tebal semakin meluas.
"Disertai dengan peningkatan aktivitas konveksi dan gelombang atmosfer ekuator," ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Jakbar Pastikan Pelayanan PTSP Berjalan Normal Selama Ramadhan
Kemudian, gelombang Madden-Julian Oscillation (MJO) yang kini terpantau di bagian barat Indonesia turut mempengaruhi peningkatan curah hujan di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi Utara.
"Tak hanya itu, gabungan aktifnya Gelombang Rossby Ekuator dan Gelombang Kelvin di wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua juga memperkuat proses konveksi yang terjadi di daerah-daerah tersebut," ucap dia.
Ida menyampaikan, prakiraan cuaca rutin diperbarui dua kali setiap hari, disertai peringatan dini potensi hujan signifikan dan angin kencang hingga lima hari ke depan untuk setiap provinsi.
"Yang disampaikan dalam bentuk infografis melalui media sosial resmi dan aplikasi InfoBMKG," kata Ida.
Selain itu, Ida mengatakan, BMKG juga mengeluarkan peringatan dini nowcasting, yaitu prakiraan cuaca jangka sangat pendek untuk 1–3 jam ke depan.
"Yang disebarkan kepada pihak terkait melalui media sosial, situs resmi BMKG, serta layanan SMS Blast kepada masyarakat," ujanya.
Sementara itu, terkait peralihan musim, Ida menyampaikan bahwa secara klimatologis pada periode April hingga Mei 2026, sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau.
"Wilayah yang diprakirakan lebih dahulu memasuki musim kemarau adalah wilayah Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat," kata dia. (cr-4)
