POSKOTA.CO.ID - Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang lebih dikenal sebagai Noe Letto resmi mengemban amanah baru di lingkar strategis negara.
Dari nama-nama yang dilantik, terdapat sejumlah figur. Di antaranya Sabrang Mowo Damar Panuluh atau Noe, vokalis grup band Letto sekaligus putra budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), serta Frank Alexander Hutapea, anak sulung pengacara Hotman Paris Hutapea.
“Seluruh nama yang dilantik, termasuk Frank Alexander Hutapea, ditetapkan melalui mekanisme yang seragam dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi serta kapasitas profesional masing-masing individu,” ujar Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait saat dikonfirmasi Poskota, Minggu, 18 Januari 2026.
Putra sulung budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) tersebut dilantik sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional. Pelantikan Noe dilakukan langsung oleh Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada Kamis, 15 Januari 2026.
Baca Juga: Cek 15 Platform Nonton Video Bokeh atau Film Jepang Gratis Legal Tanpa Proxy VPN? Cek Selengkapnya!
Dalam struktur Dewan Pertahanan Nasional, Noe dipercaya memperkuat Kedeputian Bidang Geoekonomi, Geopolitik, dan Geostrategi, bidang yang menuntut analisis lintas disiplin dan perspektif global.
Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Noe Letto lahir pada 10 Juni 1979. Ia merupakan anak pertama Cak Nun dari pernikahannya dengan Neneng Suryaningsih dan juga anak sambung dari artis sekaligus penyanyi Novia Kolopaking.
Sejak kecil, Noe telah bersentuhan dengan lingkungan budaya dan intelektual yang kuat, meski orang tuanya berpisah saat ia berusia enam tahun.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri 1 Yosomulyo, Lampung, lalu berlanjut ke SMP Xaverius Metro. Minat Noe pada musik mulai tumbuh sejak remaja, berawal dari kaset lagu-lagu Queen yang diberikan pamannya.
Dari situlah ia mulai mengenal keyboard, instrumen musik pertama yang ia dalami secara serius.
Perjalanan Akademik hingga Kanada
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah di SMU 7 Yogyakarta, Noe melanjutkan studi ke luar negeri.
Pada 1997, ia diterima di Universitas Alberta, Kanada, dan mengambil dua jurusan sekaligus, yakni matematika dan fisika.
Selama menempuh pendidikan di Kanada, Noe hidup mandiri dengan bekerja paruh waktu di tengah situasi krisis moneter.
Ketekunan itu membuahkan hasil. Pada 2003, ia lulus dengan gelar Bachelor of Science di bidang fisika dan matematika.
Kiprah Musik Bersama Letto
Sekembalinya ke Indonesia, Noe aktif berkegiatan di studio Kiai Kanjeng, yang diasuh oleh Novi Budianto, sahabat dekat Cak Nun.
Dari lingkungan inilah Noe mendalami teknik produksi musik, mulai dari penulisan lagu, mixing, hingga mastering.
Bersama Ari, Dedy, dan Patub, Noe kemudian membentuk band Letto. Album debut Truth, Cry and Lie yang dirilis pada 2005 sukses besar dan meraih double platinum.
Kesuksesan itu berlanjut melalui album kedua Don't Make Me Sad (2007), menjadikan Letto salah satu band papan atas Indonesia pada masanya.
Baca Juga: Link Full Video Amalia Mutya Viral Dicari Netizen di Telegram dan X, Apa Isinya? Ternyata Ini
Dunia Film dan Produksi Kreatif
Tak hanya di musik, Noe juga merambah industri film. Pada 2008, ia mendirikan Pic[k]Lock Productions bersama Dewi Umaya Rachman.
Film pertamanya Minggu Pagi di Victoria Park dirilis pada 2010, disusul RAYYA, Cahaya di Atas Cahaya yang naskahnya ditulis langsung oleh Cak Nun.
Pada 2015, rumah produksinya turut terlibat dalam film biopik Guru Bangsa Tjokroaminoto karya Garin Nugroho, sebuah proyek kolaborasi dengan Yayasan Keluarga Besar H.O.S. Tjokroaminoto dan MSH Films.
Dari Seni ke Strategi Nasional
Pelantikan Noe Letto sebagai Tenaga Ahli Dewan Pertahanan Nasional menandai babak baru dalam kiprahnya.
Dengan latar belakang sains, seni, dan pemikiran kritis, Noe dinilai memiliki perspektif komprehensif untuk memperkuat kajian strategis nasional di era tantangan global yang semakin kompleks.
