JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - Pengamat Sosial Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Handy Lubis menilai, fenomena olahraga padel bukan sekadar kebisingan.
Rissalwan menilai, persoalan utama yang kemudian muncul bukan semata-mata aktivitas padel. Di satu sisi, ia melihat masalah yang lebih mendasar, yakni munculnya kesenjangan dan kecemburuan sosial.
"Gangguan yang dirasakan warga lebih banyak berkaitan dengan dampak lanjutan, seperti meningkatnya lalu lintas kendaraan di jalan-jalan sempit kawasan permukiman, hingga berkurangnya kenyamanan hidup warga sekitar," kata Rissalwan kepada Poskota, Selasa, 24 Februari 2026.
Ia menuturkan, padel identik dengan olahraga kelas menengah ke atas. Para pemainnya memiliki kendaraan pribadi dan bergaya hidup mewah.
Baca Juga: DPRD Jakarta Minta Pemprov Tegas Tertibkan Lapangan Padel Pengganggu Kenyamanan
“Yang jadi masalah sebetulnya adalah menyeruaknya kesenjangan sosial dan kecemburuan. Padel ini olahraga menengah ke atas, gaya hidup kelas atas. Dengan keberadaan lapangan padel di pemukiman, muncul yang namanya social influx,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, social influx merupakan kondisi ketika terjadi penguatan mendadak jumlah orang dan aktivitas sosial di suatu kawasan. Dampaknya, jalanan menjadi lebih padat, aktivitas warga terganggu, dan muncul rasa tidak nyaman, terutama ketika kawasan tersebut dihuni masyarakat menengah ke bawah.
“Orang datang ketawa-ketawa, cekikikan, lalu pulang. Sementara masyarakat di sekitar mungkin masih banyak yang kesulitan secara ekonomi. Di situlah kecemburuan sosial itu muncul,” tuturnya.
Walau begitu, para pemain atau investor tidak sepenuhnya bisa disalahkan, karena mereka cenderung mencari lahan paling murah.

Peran Pemerintah Kendalikan Fenomena Padel
Menurutnya, padel saat ini dipandang sebagai peluang investasi baru oleh para pemilik modal, karena minat masyarakat cukup kuat.
“Ini memang lagi ramai ya, keberadaan lapangan padel yang muncul di pemukiman-pemukiman warga. Dia membuat tanda kutip ‘kegaduhan’. Pertama, memang ini tren baru yang lagi populer. Orang-orang yang punya dana melihat ini sebagai potensi investasi baru,” kata Rissalwan kepada Poskota, Selasa, 24 Februari 2026.
