"Penyebabnya juga enggak tau, biasanya kan awalnya dari ejek-ejekkan lah. Tapi kok terus-terusan," ucapnya.
Salim mengaku sangat resah karena tawuran yang sering terjadi dikhawatirkan memberi contoh buruk bagi anak-anak.
Sebagai orang tua, ia mengaku menerapkan pengawasan ketat terhadap anaknya agar tidak terpapar pengaruh negatif.
"Kayak pulang sekolah, saya langsung suruh anak saya pulang. Terus kalau main juga dibatasin, enggak boleh keluar malam," tuturnya.
Ia juga menyebut, tidak semua pelaku tawuran berasal dari warga sekitar. Manggarai kerap hanya menjadi lokasi bentrokan.
Baca Juga: Camat Tebet Libatkan OPD dan Ormas Cegah Tawuran di Manggarai
"Nah kadang-kadang cuma jadi tempat aja, gitu. Terus kalau ada yang udah mulai, nah baru dah tuh biasanya ada aja yang kepancing," ucapnya.
"Mungkin niatnya mau ngusir, tapi namanya gejolak jiwa muda, akhirnya bablas," sambungnya.
Pemerintah Diminta Berbenah
Kriminolog Josias Simon menilai tawuran di Manggarai bisa memiliki banyak faktor, termasuk kemungkinan pengalihan isu terkait peredaran narkoba.
"Jadi itu sudah multi ya, kalau dibilang penyebabnya karena narkoba ya bisa saja," kata Josias saat dihubungi.
Namun ia menilai akar utama tawuran berasal dari konflik kewilayahan yang sudah berlangsung lama, diperparah oleh kepadatan penduduk dan keterbatasan ruang.
"Interaksi yang terjadi bukan interaksi yang kemudian harmonis, tapi lebih ke interaksi yang menimbulkan konflik," ujarnya.
