Kopi Pagi: Tanggap Kehendak Rakyat

Senin 05 Jan 2026, 09:44 WIB
Kopi Pagi Harmoko. (Sumber: Poskota)

Kopi Pagi Harmoko. (Sumber: Poskota)

Baik yang sependapat maupun tidak sependapat, tentu didasari dengan argumentasinya.

Perbedaaan pendapat adalah keniscayaan, tetapi jangan karena beda pendapat lantas terjerumus kepada perselisihan yang berujung perpecahan.Yang dibutuhkan kemudian adalah memperhatikan sinyal politik, kemana kereta bakal melaju.

Kita sepakat dampak buruk kebijakan memang perlu dikritisi, bukan diadili. Perlu diantisipasi sebagai bentuk kewaspadaan diri, wajib dijalani jika memang sangat bermanfaat bagi kita semua.

Jangan tergiur ikutan mengkritisi hanya karena tak ingin disebut tidak sehati dengan mereka yang mengkritik. Sementara dirinya tidak tahu persis mengapa harus dikritisi. Itu pula yang dimaknai pandai membaca keadaan dalam menyikapi kebijakan.

Sikap bijak memang kian dibutuhkan, selain kecepatan dalam merespons keadaan. Bijak menerima kritikan, bijak pula dalam menyampaikan kritik di ruang publik.

Baca Juga: Kopi Pagi: Solidaritas Tanpa Batas

Sikap arogansi kekuasaan dan kekuatan harus disingkirkan. Bukan eranya lagi mengedepankan sifat adigang, adigung lan adiguno. Sudah cukup tersaji sikap yang demikian bukan menambah kehebatan, yang terjadi justru kian melemahkan kekuasaan karena terkikisnya kepercayaan.

Ingat! Rakyat kecil mungkin saja hanya bisa diam, tidak mampu bersuara, tetapi begitu merasakan dampak buruk dari sikap arogansi dan kesewenang-wenangan.

Sangatlah bijak jika para elite dan pejabat publik di level manapun membangun komunikasi politik sambung rasa dengan masyarakat untuk memahami problematik masyarakat, lebih mencermati kebutuhan riil masyarakat, sekaligus penyelesaian masalahnya, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Satu hal yang wajib ditorehkan adalah karya nyata untuk kemajuan dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Hindari banyak bicara tanpa karya nyata. Ibarat pitutur luhur “kakehan gludhug, kurang udan” – terlalu banyak bicara tapi minim usaha. Satu aksi lebih baik daripada sejuta kata.

Tanggap atas kehendak rakyat kian dibutuhkan saat sekarang. Bukan diam berpangku tangan, baru bergerak setelah dapat kritikan. Mari kita tapaki 2026 dengan penuh dengan aksi, bukan basa-basi, terlebih hanya fokus mencari simpati. (Azisoko)


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Mengajar dengan Cinta

Senin 24 Nov 2025, 06:07 WIB

News Update