Chris kemudian menambahkan, "Sekarang coba kita cek, dari pihak RSO pernah enggak membawa anak-anak dalam konten dia di media sosial? Yang pasti, klien kami tidak mungkin melakukan hal yang membahayakan anak-anaknya."
Pernyataan Chris ini seolah menjawab tuduhan dengan balik mengajukan pertanyaan serupa, menunjukkan bahwa isu eksploitasi anak adalah persoalan yang kompleks dan perlu dilihat dari kedua belah pihak.
Baca Juga: Bikin Haru! Raisa Persembahkan Piala AMI Awards 2025 untuk Para Pejuang Kanker
Akarnya Konflik: Debt Collector dan Komunikasi yang Putus
Lantas, apa yang memicu komunikasi antara mereka menjadi sedemikian rumit? Hubungan Sarwendah dan Ruben Onsu memburuk, setelah ibu tiga anak tersebut mengaku rumahnya didatangi dua debt collector. Kedua orang tersebut mengaku, mencari mobil mewah milik sang presenter yang menunggak pembayaran.
Sarwendah mengaku, sempat menghubungi Ruben saat kedua orang itu datang ke rumahnya. Namun presenter 42 tahun itu disebutnya tak memberikan respons yang baik.
"RSO kemudian meminta klien saya untuk menghubungi pengacaranya saja. Karena permintaannya begitu, maka kami terima. Jadi semua masalah diselesaikan antar-lawyer saja," ungkap Chris Sam Siwu menambahkan.
Insiden inilah yang diduga menjadi titik balik, di mana komunikasi langsung antara Ruben dan Sarwendah terputus dan dialihkan ke jalur hukum.
Keputusan untuk berkomunikasi melalui pengacara inilah yang kemungkinan memicu kesenjangan informasi dan koordinasi, termasuk dalam hal mengatur jadwal pertemuan dengan anak-anak.
Baca Juga: Deretan Artis Solo Pria Pop Terbaik dari Masa ke Masa, Terbaru Ada Rony Parulian
Sebuah Permintaan Sederhana
Di tengah hiruk-pikuk konflik hukum dan klaim melalui media, pesan Sarwendah terdengar sederhana dan langsung. Ia tidak meminta banyak, hanya sebuah pesan singkat untuk mengoordinasikan waktu. "Gampang, tinggal WhatsApp aku!" adalah inti dari seluruh bantahannya.
Namun, di balik kesederhanaan permintaan itu, tersimpan kompleksitas hubungan yang telah retak, di mana kepercayaan telah tergantikan oleh kehadiran debt collector dan surat dari pengacara.
Pertanyaannya kini, apakah saluran WhatsApp yang disebut-sebut "gampang" itu masih bisa menjadi jembatan, atau telah terhalang oleh tembok tinggi yang dibangun oleh konflik mereka?
