Sarwendah Jawab Ruben Onsu Soal Susah Ketemu Anak: 'Gampang, WhatsApp Aja!'

Kamis 20 Nov 2025, 13:02 WIB
Sarwendah buka suara menanggapi klaim Ruben Onsu yang dipersulit temui anak. (Sumber: Instagram/@sarwendah29)

Sarwendah buka suara menanggapi klaim Ruben Onsu yang dipersulit temui anak. (Sumber: Instagram/@sarwendah29)

POSKOTA.CO.ID - Konflik rumah tangga antara Ruben Onsu dan Sarwendah kembali memanas, kali ini menyangkut hal yang paling sensitif: hak untuk bertemu anak.

Menanggapi klaim Ruben yang merasa dipersulit menemuai buah hatinya, Sarwendah secara tegas membantah dan menyatakan pintu komunikasi selalu terbuka.

Dalam kesempatan terpisah, kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu, juga turun tangan membantah tuduhan eksploitasi anak yang dilayangkan pihak Ruben.

Baca Juga: Viral Penyanyi Aisha Retno Sebut Batik dari Malaysia ke Ariana Grande, Langsung Tuai Hujatan Netizen

Komunikasi, Kunci Utama

Sarwendah akhirnya buka suara terkait klaim Ruben Onsu, yang menuding dirinya berusaha menghalang-halangi sang mantan suami untuk bertemu kedua anaknya.

Dia menegaskan, tak pernah berpikir untuk menjauhkan anak-anaknya dari Ruben selaku ayah kandung. Dia hanya meminta sang mantan suami untuk memperbaiki pola komunikasinya.

"Enggak susah kok. Gampang, tinggal WhatsApp aku! Nanti tinggal koordinasi jadwal. Karena anak-anak juga kan punya jadwal masing-masing," ujarnya kepada awak media di Bandara Soekarno Hatta, Rabu, 19 November 2025.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa masalah utama bukanlah keinginan untuk memisahkan anak dari ayahnya, melainkan perlunya koordinasi yang lebih baik.

Sebagai ibu yang memegang hak asuh, Sarwendah menekankan tanggung jawabnya dalam mengatur kegiatan sehari-hari putri-putrinya yang padat.

Bantahan Tuduhan Eksploitasi Anak

Potret artis, Ruben Onsu. (Sumber: Instagram)

Tak hanya itu, Chris Sam Siwu selaku kuasa hukum Sarwendah juga menjawab tuduhan pihak Ruben Onsu yang menuding mantan personel Cherrybelle itu mengeksploitasi kedua anaknya.

"Sepanjang dalam frame itu ada ibunya, saya rasa enggak masalah. Kecuali, hanya anak saja tampil di Live tanpa keberadaan orangtua," kata Chris menambahkan.

Chris kemudian menambahkan, "Sekarang coba kita cek, dari pihak RSO pernah enggak membawa anak-anak dalam konten dia di media sosial? Yang pasti, klien kami tidak mungkin melakukan hal yang membahayakan anak-anaknya."

Pernyataan Chris ini seolah menjawab tuduhan dengan balik mengajukan pertanyaan serupa, menunjukkan bahwa isu eksploitasi anak adalah persoalan yang kompleks dan perlu dilihat dari kedua belah pihak.

Baca Juga: Bikin Haru! Raisa Persembahkan Piala AMI Awards 2025 untuk Para Pejuang Kanker

Akarnya Konflik: Debt Collector dan Komunikasi yang Putus

Lantas, apa yang memicu komunikasi antara mereka menjadi sedemikian rumit? Hubungan Sarwendah dan Ruben Onsu memburuk, setelah ibu tiga anak tersebut mengaku rumahnya didatangi dua debt collector. Kedua orang tersebut mengaku, mencari mobil mewah milik sang presenter yang menunggak pembayaran.

Sarwendah mengaku, sempat menghubungi Ruben saat kedua orang itu datang ke rumahnya. Namun presenter 42 tahun itu disebutnya tak memberikan respons yang baik.

"RSO kemudian meminta klien saya untuk menghubungi pengacaranya saja. Karena permintaannya begitu, maka kami terima. Jadi semua masalah diselesaikan antar-lawyer saja," ungkap Chris Sam Siwu menambahkan.

Insiden inilah yang diduga menjadi titik balik, di mana komunikasi langsung antara Ruben dan Sarwendah terputus dan dialihkan ke jalur hukum.

Keputusan untuk berkomunikasi melalui pengacara inilah yang kemungkinan memicu kesenjangan informasi dan koordinasi, termasuk dalam hal mengatur jadwal pertemuan dengan anak-anak.

Baca Juga: Deretan Artis Solo Pria Pop Terbaik dari Masa ke Masa, Terbaru Ada Rony Parulian

Sebuah Permintaan Sederhana

Di tengah hiruk-pikuk konflik hukum dan klaim melalui media, pesan Sarwendah terdengar sederhana dan langsung. Ia tidak meminta banyak, hanya sebuah pesan singkat untuk mengoordinasikan waktu. "Gampang, tinggal WhatsApp aku!" adalah inti dari seluruh bantahannya.

Namun, di balik kesederhanaan permintaan itu, tersimpan kompleksitas hubungan yang telah retak, di mana kepercayaan telah tergantikan oleh kehadiran debt collector dan surat dari pengacara.

Pertanyaannya kini, apakah saluran WhatsApp yang disebut-sebut "gampang" itu masih bisa menjadi jembatan, atau telah terhalang oleh tembok tinggi yang dibangun oleh konflik mereka?


Berita Terkait


News Update