Kopi Pagi: Bersahabat dengan Alam

Kamis 10 Sep 2026, 08:19 WIB
Kopi Pagi edisi hari ini, Kamis, 10 September 2026. (Sumber: Poskota)
Kopi Pagi edisi hari ini, Kamis, 10 September 2026. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - “Bersahabat dan menyatu dengan alam secara sederhana adalah perilaku untuk senantiasa berkeinginan merawat, menjaga dan melestarikan alam beserta isinya.Bukan menindas dan merusaknya.Dalam filosofi berbahasa Jawa disebut memayu hayuning bawana," kata Harmoko.

Sering dikatakan bencana alam di negeri kita bukan hal baru karena sudah menjadi hal biasa setiap tahunnya. Satu penyebabnya, adalah kondisi fisik Indonesia itu sendiri.

Sepanjang tahun 2026, sudah 1.730 bencana alam terjadi di negeri kita. Terbanyak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sebanyak 627 kejadian, disusul banjir 543, cuaca ekstrem 324, tanah longsor 105, kekeringan 101 kejadian. Selain gempa bumi, erupsi gunung berapi dan tsunami.

Dampak langsung, ratusan orang meninggal dunia, ribuan warga luka-luka, jutaan orang mengungsi, ratusan ribu rumah dan fasilitas umum mengalami kerusakan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menelisik Rangkap Jabatan Politik

Belum lagi dampak pertumbuhan perekonomian daerah terdampak gempa, termasuk trauma masyarakatnya akibat kehilangan sanak saudaranya dan tempat tinggalnya.

Meski acap dikatakan bahwa apa yang terjadi di muka bumi ini adalah kehendak- Nya.Tetapi tidak lantas kita diam saja, tidak berusaha mencegah hal buruk terjadi. Tidak juga mencari penyebab mengapa semua ini bisa terjadi.

Kita mesti banyak berbenah dalam arti menata diri, meningkatkan mitigasi bencana, menata lingkungan sekitar serta berusaha bersahabat dengan alam agar bencana tak terulang lagi.

Dari sejumlah bencana yang terjadi seperti tanah longsor dan banjir bandang, diawali dari adanya kerusakan lingkungan, di antaranya karena alih fungsi lahan, pertambangan, dan pembalakan liar. Kita sebut pemanfaatan lahan yang tidak tepat sasaran, lebih-lebih mengabaikan pelestarian lingkungan.

Baca Juga: Kopi Pagi: Mengisi Kemerdekaan Tiada Akhir

Jika dikatakan, banjir bandang dan longsor akibat curah hujan tinggi, itu sulit terbantahkan. Tetapi jika lingkungan memiliki daya serap air sangat tinggi, longsor bisa terhalangi, setidaknya risiko semakin berkurang.

Secara geografis, negeri kita memang rawan bencana alam. Selain terletak di daerah tropis, juga menjadi daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Diketahui, Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara. Sedangkan yang bertabrakan dengan lempeng Pasifik terjadi di utara Papua dan Maluku Utara. Di sekitaran lokasi tersebut, energi tabrakannya terkumpul. Nah, ketika lapisan bumi sudah gak sanggup menahan, energi tersebut akhirnya terlepas dan terjadi getaran yang sering kita sebut gempa bumi.

Belum lagi negeri kita memiliki 500 gunung berapi, 127 di antaranya masih aktif yang berpotensi erupsi.Bagi sains modern, gempa bumi atau tsunami merupakan siklus alamiah yang terjadi dalam aktivitas bumi sebagai efek dari proses penyeimbangan.

Bumi dengan hukum alamnya tidak sedang melakukan sebuah drama, tetapi memang bumi harus melakukan penyeimbangan-penyeimbangan jika ia ingin survive, tidak ingin hancur.

Seandainya gunung tidak meletus, lempeng tektonik tidak patah dalam suatu waktu, maka kondisi bumi akan mengalami sebuah gangguan sistemik dalam proses pergerakannya.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (3)

Dengan kondisi tersebut, dalam menyikapi bencana, jangan lantas menyalahkan kondisi alam. Tetapi hendaknya menyatu dengan alam, bersahabat dengan alam, bukan melawan alam dengan merusak lingkungan, melakukan penebangan liar, membangun infrastruktur tanpa mengabaikan amdal, mengeksploitasi alam demi kepentingan bisnis dan kekuasaan semata tanpa melihat akibatnya bagi keturunan anak cucu kita.

Perlu kiranya mengubah paradigma (pola pikir) bila alam ini bukanlah warisan nenek moyang. Alam ini merupakan ciptaan Tuhan yang diperuntukkan bagi kehidupan dan kebutuhan manusia. Karena itu, manusia tidak diizinkan mengeksploitasi alam sesuai keinginan mereka.

Mari kita bersahabat dengan alam, bukan menindas, dan merusaknya. Bersahabat dan menyatu dengan alam secara sederhana adalah perilaku untuk senantiasa berkeinginan merawat, menjaga dan melestarikannya, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Indonesia sebagai negara Pancasila yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, memiliki modal sosial yang kuat untuk membentuk masyarakat yang spiritual religius, dalam konteks menjaga alam.Terlebih, tidak satupun agama yang mengajarkan umatnya untuk merusak, termasuk merusak alam.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (2)

Kita mendapat karunia akal agar kita mampu olah pikir bagaimana menyeimbangkan pola hidup serasi dan bersahabat dengan lingkungan (alam), bukan sebaliknya merusaknya.

Dalam filosofi berbahasa Jawa disebutkan: Memayu hayuning bawana – memperindah, menjaga keselamatan dan kelestarian alam semesta. Mengajarkan kepada kita untuk hidup berdampingan secara selaras dan seimbang dengan dengan sesama ciptaan Tuhan dan alam sekitar.

Dalam menyikapi bencana alam, tidak lagi bersikap responsif, tetapi lebih menuju kepada upaya preventif mencegah sedini dan sekecil mungkin risiko bencana.

Upaya meminimalkan dampak bencana atau tindakan-tindakan untuk memperkecil risiko atau mengurangi dampak yang ditimbulkan dari suatu bencana. Itu yang disebut mitigasi bencana, baik secara struktural maupun nonstruktural.

Di sisi lain kian dituntut kebijakan yang sangat prolingkungan. Apa pun program yang digulirkan harus mengedepankan menjaga sumber daya alam, bukan merusaknya.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Mari Berbenah Diri

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi : Cepat dan Bijak

News Update