Kopi Pagi: Mari Berbenah Diri

Kamis 18 Jun 2026, 07:00 WIB
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)
Ilustrasi Kopi Pagi. (Sumber: Poskota)

POSKOTA.CO.ID - “Perlu eling lan waspada. Eling siapa diri kita. Waspada dalam setiap langkah agar tidak terpeleset atau tergelincir. Waspada dalam setiap ucapan dan perbuatan. Ucapan yang bisa membuat orang lain menjadi tersanjung, bukan limbung Ucapan ramah yang membuat orang lain "bungah", bukan marah. Ucapan yang menyejukkan hati, bukan membuat sakit hati.” -Harmoko-

Kita, baru saja memasuki tahun baru Islam – 1 Muharam 1448 H. Dalam penanggalan Jawa juga dikenal dengan Satu Suro sebagai hari pertama di bulan Suro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Catatan sejarah menyebutkan tradisi malam Satu Suro berawal pada pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1593-1645). Sultan Agung yang memprakarsai penyatuan kalender Saka dan kalender Hijriah menjadi kalender Jawa. Memadukan budaya Islam dan budaya lokal.

Penyatuan kalender ini dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil Akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi bertepatan dengan 1042 Hijriah. Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro, bertepatan dengan 1 Muharam dalam kalender Hijriah.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menguatkan Kedaulatan dan Kemandirian

Menyongsong tahun baru, lazimnya menjadi momentum untuk merefleksi diri apa yang telah dilakukan dan akan dilakukan kemudian. Bercermin diri atas segala kekeliruan dan kekurangan, sekaligus merumuskan perbaikan dengan potensi yang dapat dikembangkan dalam menapaki perjalanan tahun sekarang.

Begitupun dalam memasuki tahun baru 1448 H dan Satu Suro 2026 atau 1960 Ja, hendaknya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas diri, dengan menebarkan kebaikan, sementara segala hal buruk ditinggalkan. Hijrah dari yang buruk menjadi baik, yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Tahun baru tak hanya momen untuk introspeksi – mawas diri, sudah sepantasnya tahun ini menjadi momentum untuk berbenah diri (muhasabah diri) sejauh mana telah menyiapkan bekal untuk kemudian hari. Selalu mencerminkan akhlak mulia, memiliki semangat baru untuk merancang dan menjalani kehidupan ke arah yang lebih baik lagi. Itulah makna hijrah.

Sejalan dengan bulan Suro, tak hanya untuk diam dan merenung, tetapi upaya nyata membersihkan diri.

Baca Juga: Kopi Pagi: Tiada Jera Korupsi, Mengapa?

Satu Suro bukan sebatas penanda pergantian tahun kalender Jawa, tetapi juga sebuah momentum sakral yang sarat dengan nilai – nilai filosofis, spiritual dan budaya.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Periode Kejar Impian

News Update