Dalam filosofi berbahasa Jawa disebutkan: Memayu hayuning bawana – memperindah, menjaga keselamatan dan kelestarian alam semesta. Mengajarkan kepada kita untuk hidup berdampingan secara selaras dan seimbang dengan dengan sesama ciptaan Tuhan dan alam sekitar.
Dalam menyikapi bencana alam, tidak lagi bersikap responsif, tetapi lebih menuju kepada upaya preventif mencegah sedini dan sekecil mungkin risiko bencana.
Upaya meminimalkan dampak bencana atau tindakan-tindakan untuk memperkecil risiko atau mengurangi dampak yang ditimbulkan dari suatu bencana. Itu yang disebut mitigasi bencana, baik secara struktural maupun nonstruktural.
Di sisi lain kian dituntut kebijakan yang sangat prolingkungan. Apa pun program yang digulirkan harus mengedepankan menjaga sumber daya alam, bukan merusaknya.
