GIFA Indonesia 2026: WSI Dorong Penerapan K3 Berbasis Risiko di Dunia Industri

Rabu 09 Sep 2026, 22:48 WIB
WSI memperkuat komitmen terhadap keselamatan kerja dengan menghadirkan solusi perlindungan lengkap di GIFA Indonesia 2026. (Sumber: Poskota/Aldi Harlanda Irawan)
WSI memperkuat komitmen terhadap keselamatan kerja dengan menghadirkan solusi perlindungan lengkap di GIFA Indonesia 2026. (Sumber: Poskota/Aldi Harlanda Irawan)

POSKOTA.CO.ID - Tekanan efisiensi dan perubahan dinamika ekonomi global membuat pelaku industri semakin selektif dalam menentukan prioritas bisnis. Meski demikian, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tetap menjadi bagian penting yang tidak dapat dikorbankan demi mengejar produktivitas.

Tantangan K3 saat ini juga semakin kompleks. Selain risiko kecelakaan yang muncul dari aktivitas operasional, industri perlu mengantisipasi potensi kebakaran hingga paparan asap, termasuk dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tertentu.

Kondisi tersebut mendorong perusahaan untuk memiliki sistem keselamatan yang lebih menyeluruh. Perlindungan pekerja tidak hanya berkaitan dengan alat pelindung diri (APD), tetapi juga mencakup kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, perlindungan pernapasan, deteksi gas, hingga kemampuan merespons kondisi darurat.

Baca Juga: GFSR ke-3 dan ADEXCO 2026 Dorong Aksi Nyata Hadapi Risiko Bencana

Angka Kecelakaan Kerja Masih Jadi Tantangan

Urgensi penerapan K3 tercermin dari data BPJS Ketenagakerjaan yang disampaikan Menteri Ketenagakerjaan. Sepanjang 2025 tercatat sebanyak 319.224 klaim kecelakaan kerja, dengan 9.834 kasus di antaranya tercatat sebagai fatality.

Angka tersebut menunjukkan bahwa keselamatan kerja masih menjadi tantangan serius bagi dunia industri, terutama pada sektor dengan tingkat risiko tinggi seperti pertambangan, minyak dan gas, konstruksi, manufaktur, serta energi.

Di sisi lain, tuntutan terhadap efisiensi membuat perusahaan harus mampu menjaga produktivitas tanpa mengurangi standar keselamatan. PT Wahana Safety Indonesia (WSI) menilai kedua aspek tersebut seharusnya tidak ditempatkan sebagai pilihan yang saling bertentangan.

“Di tengah tuntutan produktivitas dan efisiensi, keselamatan harus tetap menjadi prioritas. Risiko yang dihadapi industri juga terus berkembang, termasuk risiko kebakaran dan paparan asap. Karena itu, perusahaan perlu melihat kebutuhan keselamatan secara lebih menyeluruh sesuai dengan kondisi operasionalnya,” ujar Fransiscus B. Hermanto, Sales & Marketing Director PT Wahana Safety Indonesia.

WSI Dorong Pendekatan K3 Berbasis Risiko

Pendekatan tersebut turut dibawa WSI dalam keikutsertaannya di GIFA Indonesia 2026, bagian dari Indonesia Energy & Engineering, IEE Series – Engineering Week 2026 yang berlangsung pada 9–12 September 2026 di Jakarta International Expo, JIExpo Kemayoran, Jakarta.

Kehadiran WSI di ajang tersebut tidak hanya difokuskan pada pengenalan produk. Perusahaan juga memanfaatkan momentum ini untuk berdiskusi langsung dengan pelaku industri mengenai berbagai tantangan keselamatan yang dihadapi di lingkungan kerja.

Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, WSI menawarkan berbagai solusi keselamatan, mulai dari head protection, respiratory protection, eye and face protection, hand protection, protective apparel, safety footwear, fall protection, gas detection, hingga fire safety.


Berita Terkait


News Update