Kopi Pagi: Bersahabat dengan Alam

Kamis 10 Sep 2026, 08:19 WIB
Kopi Pagi edisi hari ini, Kamis, 10 September 2026. (Sumber: Poskota)
Kopi Pagi edisi hari ini, Kamis, 10 September 2026. (Sumber: Poskota)

Secara geografis, negeri kita memang rawan bencana alam. Selain terletak di daerah tropis, juga menjadi daerah pertemuan 3 lempeng tektonik besar, yakni lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.

Diketahui, Lempeng Indo-Australia bertabrakan dengan lempeng Eurasia di lepas pantai Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara. Sedangkan yang bertabrakan dengan lempeng Pasifik terjadi di utara Papua dan Maluku Utara. Di sekitaran lokasi tersebut, energi tabrakannya terkumpul. Nah, ketika lapisan bumi sudah gak sanggup menahan, energi tersebut akhirnya terlepas dan terjadi getaran yang sering kita sebut gempa bumi.

Belum lagi negeri kita memiliki 500 gunung berapi, 127 di antaranya masih aktif yang berpotensi erupsi.Bagi sains modern, gempa bumi atau tsunami merupakan siklus alamiah yang terjadi dalam aktivitas bumi sebagai efek dari proses penyeimbangan.

Bumi dengan hukum alamnya tidak sedang melakukan sebuah drama, tetapi memang bumi harus melakukan penyeimbangan-penyeimbangan jika ia ingin survive, tidak ingin hancur.

Seandainya gunung tidak meletus, lempeng tektonik tidak patah dalam suatu waktu, maka kondisi bumi akan mengalami sebuah gangguan sistemik dalam proses pergerakannya.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (3)

Dengan kondisi tersebut, dalam menyikapi bencana, jangan lantas menyalahkan kondisi alam. Tetapi hendaknya menyatu dengan alam, bersahabat dengan alam, bukan melawan alam dengan merusak lingkungan, melakukan penebangan liar, membangun infrastruktur tanpa mengabaikan amdal, mengeksploitasi alam demi kepentingan bisnis dan kekuasaan semata tanpa melihat akibatnya bagi keturunan anak cucu kita.

Perlu kiranya mengubah paradigma (pola pikir) bila alam ini bukanlah warisan nenek moyang. Alam ini merupakan ciptaan Tuhan yang diperuntukkan bagi kehidupan dan kebutuhan manusia. Karena itu, manusia tidak diizinkan mengeksploitasi alam sesuai keinginan mereka.

Mari kita bersahabat dengan alam, bukan menindas, dan merusaknya. Bersahabat dan menyatu dengan alam secara sederhana adalah perilaku untuk senantiasa berkeinginan merawat, menjaga dan melestarikannya, seperti dikatakan Pak Harmoko dalam kolom “Kopi Pagi” di media ini.

Indonesia sebagai negara Pancasila yang berke-Tuhan-an Yang Maha Esa, memiliki modal sosial yang kuat untuk membentuk masyarakat yang spiritual religius, dalam konteks menjaga alam.Terlebih, tidak satupun agama yang mengajarkan umatnya untuk merusak, termasuk merusak alam.

Baca Juga: Kopi Pagi: Menuju Adil dan Makmur (2)

Kita mendapat karunia akal agar kita mampu olah pikir bagaimana menyeimbangkan pola hidup serasi dan bersahabat dengan lingkungan (alam), bukan sebaliknya merusaknya.


Berita Terkait


undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi: Mari Berbenah Diri

undefined
Kopi Pagi

Kopi Pagi : Cepat dan Bijak

News Update