KEBAYORAN BARU, POSKOTA.CO.ID - Harga cabai rawit merah di Jakarta mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Jakarta menyebut kenaikan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari penurunan luas tanam, puncak musim kemarau, serangan hama, hingga meningkatnya biaya produksi dan distribusi.
Kepala Dinas KPKP Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengatakan kenaikan harga terjadi baik di tingkat grosir maupun eceran. Berdasarkan pemantauan Dinas KPKP Jakarta, harga cabai rawit merah di tingkat grosir mengalami kenaikan mingguan sebesar 26,22 persen atau sekitar Rp10.714 per kilogram.
"Untuk tingkat grosir, kenaikan harga mingguan cabai rawit merah mencapai 26,22 persen atau sekitar Rp10.714 per kilogram," ujar Hasudungan dalam keterangannya kepada Pos Kota, Kamis, 10 September 2026.
Sementara di tingkat eceran, kata Hasudungan, kenaikan harga dalam periode mingguan tercatat sebesar 8,13 persen atau sekitar Rp4.919 per kilogram. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga tidak hanya terjadi pada jalur distribusi awal, tetapi juga sampai ke tingkat konsumen.
Baca Juga: Harga Cabai Rawit Tembus Rp100 Ribu per Kg, Emak-emak Mulai Irit Bikin Sambal
Kemudian, kata Hasudungan, jika dibandingkan secara bulanan, harga cabai rawit merah di tingkat grosir mengalami kenaikan sebesar 30,56 persen atau sekitar Rp9.757 per kilogram.
Sedangkan di tingkat eceran, kenaikannya tercatat 3,03 persen atau sekitar Rp1.770 per kilogram.
Lanjut Hasudungan, kenaikan harga cabai rawit merah tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga ditemukan di sejumlah provinsi lainnya. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah penurunan luas tanam cabai rawit merah pada periode Februari 2026 sebesar 14 persen yang berdampak terhadap produksi pada Agustus hingga Desember 2026.
"Pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada minggu kelima Agustus 2026 mengalami penurunan 10,4 persen, dari 144 ton menjadi 129 ton," ungkap Hasudungan.
Baca Juga: Harga Cabai Usai Lebaran Turun, Tapi Masih Lebih Tinggi dari Bulan Sebelumnya
Selain berkurangnya luas tanam, kata Hasudungan, produksi cabai juga terpengaruh kondisi puncak musim kemarau. Tanaman yang kekurangan air mengalami hambatan pertumbuhan, bunga lebih mudah rontok, sementara perkembangan buah tidak optimal.
Pada periode yang sama, serangan hama seperti kutu kebul, thrips, tungau, dan ulat juga mengalami peningkatan. Kondisi tersebut semakin menekan produksi cabai dan berpengaruh terhadap ketersediaan komoditas di pasaran.
"Selain faktor produksi dan cuaca, kenaikan harga bahan bakar minyak juga menyebabkan biaya operasional produksi dan distribusi pangan ikut meningkat," tutur Hasudungan.
Selanjutnya untuk menjaga kestabilan harga, Hasudungan mengatakan, Pemprov DKI Jakarta melakukan sejumlah upaya, salah satunya mengembangkan pertanian perkotaan dengan komoditas cabai rawit merah.
Baca Juga: Mendag Pastikan Stok Pangan Aman Usai Lebaran, Harga Cabai Sempat Naik Akibat Cuaca
Sepanjang 2026, lahan yang telah ditanami cabai rawit merah mencapai 11,46 hektare dengan hasil panen sebanyak 45,59 ton.
Selain itu, Dinas KPKP DKI Jakarta menggelar pelatihan diversifikasi olahan cabai dan bawang di seluruh kota serta kabupaten administrasi. Pemprov DKI juga menggandeng Perumda Pasar Jaya untuk menyediakan cabai rawit merah melalui kegiatan pangan murah keliling agar masyarakat tetap memperoleh cabai dengan harga yang lebih terjangkau.
Tidak Hanya Cabai, Mayoritas Komoditas Pangan Naik
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga berbagai komoditas, termasuk cabai di pasar tradisional dipengaruhi sejumlah faktor yang saling berkaitan. Menurutnya, kondisi cuaca, penurunan produksi, berkurangnya pasokan, serta meningkatnya biaya produksi dan distribusi menjadi sejumlah penyebab yang dapat mendorong harga pangan naik.
Ibrahim menjelaskan, musim kemarau panjang yang dipengaruhi fenomena El Nino berpotensi mengganggu produksi berbagai komoditas pertanian.
Baca Juga: Harga Cabai di Pasar Senen Jakarta Turun Usai Lebaran
Berkurangnya ketersediaan air membuat kegiatan pertanian tidak berjalan optimal, terutama pada tanaman yang membutuhkan pasokan air cukup.
"Memasuki bulan September ini, kemungkinan besar semua harga-harga pokok itu akan naik karena bersamaan dengan El Nino. El Nino, musim kering, musim panas, kemudian pembakaran lahan, ini yang membuat harga-harga mengalami kenaikan, terutama beras," beber Ibrahim.
Kondisi kekeringan juga dapat memengaruhi ketersediaan air pada sungai dan saluran irigasi. Situasi tersebut berpotensi menghambat proses tanam dan menekan produksi sejumlah komoditas seperti cabai, bawang merah, serta berbagai jenis sayuran.
Ketika produksi menurun, jumlah komoditas yang masuk ke pasar ikut berkurang. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan tetap berjalan sehingga ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dapat membuat harga semakin meningkat.
Baca Juga: Harga Cabai di Lebak Tinggi Selama Ramadhan, Penjual Sayuran Keliling Jual Secara Eceran
"Sehingga barangnya tidak ada, produksinya berkurang, permintaannya tinggi, membuat harga semakin naik," terang Ibrahim.
Selain cabai, kata Ibrahim, beras menjadi salah satu komoditas yang berpotensi terdampak kondisi tersebut. Penurunan produksi akibat musim kemarau dapat mengurangi pasokan beras sehingga harga di tingkat konsumen berpeluang meningkat apabila ketersediaannya tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain faktor produksi pertanian, biaya energi juga menjadi komponen yang dapat memengaruhi harga pangan.
Kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi mendorong harga BBM nonsubsidi, yang selanjutnya dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang dari daerah produksi menuju pasar.
"Pada saat BBM non-subsidi mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap transportasi. Nah, kalau transportasi naik, beban barang yang ada di Jakarta ini pun harganya lebih tinggi," ungkap Ibrahim.
Kenaikan biaya produksi juga berpotensi terjadi pada komoditas peternakan. Ibrahim menyoroti harga pakan ternak yang sebagian bahannya masih bergantung pada impor, sehingga perubahan kondisi ekonomi dan geopolitik global dapat ikut memengaruhi biaya yang harus ditanggung peternak.
"Bahan pakan ini barang impor, bahan pakan untuk peternak. Ini bahan pakannya tinggi tapi harganya nanti lebih murah. Nah, ini tidak seimbang. Sehingga membuat harga-harga naik," tutur Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan, tekanan terhadap harga tersebut mulai terlihat pada sejumlah komoditas di pasar tradisional. Ia mencontohkan buncis yang sebelumnya berada di kisaran Rp15 ribu per kilogram dapat meningkat hingga Rp35 ribu per kilogram ketika pasokannya berkurang.
"Yang tidak ada itu adalah buncis. Itu buncis tidak ada karena harganya lebih mahal. Kemudian harga timun, itu pun juga mahal luar biasa. Akhirnya konsumen tidak mau beli," keluh Ibrahim.
Dengan demikian, Ibrahim menyimpulkan, kenaikan harga pangan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Gangguan produksi akibat cuaca, keterbatasan pasokan, meningkatnya harga pakan, serta bertambahnya biaya transportasi dan distribusi dapat secara bersamaan memberikan tekanan terhadap harga berbagai komoditas pangan di pasar.
