Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda: Area Diperluas jadi 6 Sektor, 300 Personel SAR Dikerahkan

Kamis 10 Sep 2026, 18:09 WIB
Tim SAR Gabungan saat melakukan pencarian lima jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda. (Sumber: Pos Kota/Samsul Fatoni)
Tim SAR Gabungan saat melakukan pencarian lima jurnalis yang hilang di perairan Selat Sunda. (Sumber: Pos Kota/Samsul Fatoni)

PANDEGLANG, POSKOTA.CO.ID - Operasi pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) yang hilang kontak di perairan Selat Sunda terus diperluas. Memasuki hari ketiga pencarian pada Kamis, 10 September 2026, Tim SAR gabungan resmi memperlebar area penyisiran menjadi enam sektor.

Rombongan tersebut sebelumnya dilaporkan hilang kontak sejak Senin, 7 September 2026 lalu saat dalam perjalanan untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), M. Syafii, menyatakan bahwa sebanyak lebih dari 300 personel gabungan serta 11 armada kapal telah dikerahkan ke lokasi penyisiran. Operasi skala besar ini melibatkan sinergi dari Basarnas Pusat, Kantor SAR Banten, Kantor SAR Lampung, unsur TNI-Polri, hingga pemerintah daerah.

"Kami dari pemerintah pusat maupun daerah berupaya semaksimal mungkin dalam melaksanakan tugas kemanusiaan ini. Kita sangat berharap bisa segera menemukan dan menolong para korban dalam kondisi selamat," ujar Syafii di kawasan Pantai Marina Carita, Pandeglang, Kamis.

Baca Juga: Hari Kedua, Tim SAR Cari 5 Jurnalis dan 3 ABK yang Hilang Kontak di Perairan Selat Sunda

Syafii menjelaskan, perluasan area pencarian dilakukan secara bertahap berdasarkan pemetaan wilayah. Pada hari pertama, pencarian difokuskan pada tiga sektor, berkembang menjadi lima sektor pada hari kedua, hingga akhirnya hari ini diperluas menjadi enam sektor.

Dalam menentukan pola operasi, Basarnas mengacu pada standar Basarnas Command Center (BCC) dengan memanfaatkan titik last known position (LKP) atau lokasi terakhir korban terdeteksi.

Data cuaca dan kondisi perairan dari BMKG serta PVMBG juga dijadikan acuan utama dalam pergerakan tim di lapangan.

Mengingat area kejadian berada di wilayah perairan, fokus utama operasi mengandalkan alutsista laut dan pemantauan udara.

Kendati demikian, Syafii menegaskan bahwa keselamatan tim penyelamat tetap menjadi prioritas utama di tengah kondisi alam Selat Sunda yang dinamis.

"Operasi yang dilakukan ini tetap dengan batasan safety yang ketat," tegas Syafii.


Berita Terkait


News Update