Ketika produksi menurun, jumlah komoditas yang masuk ke pasar ikut berkurang. Di sisi lain, kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan tetap berjalan sehingga ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dapat membuat harga semakin meningkat.
Baca Juga: Harga Cabai di Lebak Tinggi Selama Ramadhan, Penjual Sayuran Keliling Jual Secara Eceran
"Sehingga barangnya tidak ada, produksinya berkurang, permintaannya tinggi, membuat harga semakin naik," terang Ibrahim.
Selain cabai, kata Ibrahim, beras menjadi salah satu komoditas yang berpotensi terdampak kondisi tersebut. Penurunan produksi akibat musim kemarau dapat mengurangi pasokan beras sehingga harga di tingkat konsumen berpeluang meningkat apabila ketersediaannya tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain faktor produksi pertanian, biaya energi juga menjadi komponen yang dapat memengaruhi harga pangan.
Kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi mendorong harga BBM nonsubsidi, yang selanjutnya dapat meningkatkan biaya transportasi dan distribusi barang dari daerah produksi menuju pasar.
"Pada saat BBM non-subsidi mengalami kenaikan, sehingga berdampak terhadap transportasi. Nah, kalau transportasi naik, beban barang yang ada di Jakarta ini pun harganya lebih tinggi," ungkap Ibrahim.
Kenaikan biaya produksi juga berpotensi terjadi pada komoditas peternakan. Ibrahim menyoroti harga pakan ternak yang sebagian bahannya masih bergantung pada impor, sehingga perubahan kondisi ekonomi dan geopolitik global dapat ikut memengaruhi biaya yang harus ditanggung peternak.
"Bahan pakan ini barang impor, bahan pakan untuk peternak. Ini bahan pakannya tinggi tapi harganya nanti lebih murah. Nah, ini tidak seimbang. Sehingga membuat harga-harga naik," tutur Ibrahim.
Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan, tekanan terhadap harga tersebut mulai terlihat pada sejumlah komoditas di pasar tradisional. Ia mencontohkan buncis yang sebelumnya berada di kisaran Rp15 ribu per kilogram dapat meningkat hingga Rp35 ribu per kilogram ketika pasokannya berkurang.
"Yang tidak ada itu adalah buncis. Itu buncis tidak ada karena harganya lebih mahal. Kemudian harga timun, itu pun juga mahal luar biasa. Akhirnya konsumen tidak mau beli," keluh Ibrahim.
Dengan demikian, Ibrahim menyimpulkan, kenaikan harga pangan tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Gangguan produksi akibat cuaca, keterbatasan pasokan, meningkatnya harga pakan, serta bertambahnya biaya transportasi dan distribusi dapat secara bersamaan memberikan tekanan terhadap harga berbagai komoditas pangan di pasar.
