JAKARTA, POSKOTA.CO.ID - UMKM Indonesia berpeluang menembus pasar ASEAN lewat pameran Asia Fashion Show 2026 yang resmi dibuka di Jakarta International Expo (JIEXPO) pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Pameran ini mempertemukan pelaku industri fashion dan industri ringan China-Indonesia, serta negara lainnya untuk memperkuat kerja sama industri.
Di tahun ini, gelaran pameran skalanya lebih besar dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya. Luas area pameran lebih dari 12.000 meter persegi dan diikuti lebih dari 208 peserta dari China, Indonesia serta sejumlah peserta dari wilayah lainnya.
Menariknya, lebih dari sepertiga peserta pameran merupakan perusahaan lokal Indonesia. Tingginya partisipasi pelaku usaha dalam negeri menunjukkan semakin terbukanya ruang kolaborasi antara industri Indonesia dan China, khususnya di sektor fashion dan industri ringan.
Baca Juga: DPR RI Dorong Penguatan UMKM Pandeglang untuk Topang Ekonomi Daerah
Pameran berfokus pada produk koper, barang berbahan kulit, serta berbagai produk industri ringan bidang fashion.
Selain menjadi ajang promosi produk, kegiatan ini dirancang sebagai platform yang mempertemukan pelaku usaha melalui pameran, business matching, hingga pertukaran pengetahuan dan budaya.
CEO Guangdong Qiya Exhibition Co Ltd, Yi Qiang mengatakan, kehadiran pelaku usaha Indonesia dalam pameran tersebut menjadi bagian penting dari upaya membangun kolaborasi industri antara kedua negara.
“Jadi kali ini kita ke sini bukan hanya bawa industri. Tetapi kita harap distributor sama eceran itu bisa sama-sama kerja sama, antara Indonesia dengan China,” kata Yi setelah membuka Pameran di Jakarta International Expo (JIEXPO), Jakarta, Rabu.
Baca Juga: Dorong Transaksi Digital UMKM Batik, BNI Gelar Promo di Puspa Nuswantara 2026
Menurut dia, kerja sama yang dibangun tidak semata-mata berorientasi pada ekspor produk China ke Indonesia.
Pameran tersebut juga diarahkan untuk membuka kesempatan bagi UMKM Indonesia bekerja sama dalam pengembangan desain, produksi, hingga ekspor.
“Jadi kali ini pameran ini bukan hanya dari China untuk mengekspor barang. Terutama itu untuk UMKM lokal, dari desainnya dan ekspornya bisa kerja sama,” ujarnya.
Yi mengatakan, kolaborasi tersebut diharapkan menjadi jembatan bagi pelaku usaha kedua negara dalam mengembangkan perdagangan lintas negara.
“Ada jembatan yang bagus sama-sama terkait ekspor dan impor,” ucapnya.
Tak hanya pameran produk, pameran ini juga menghadirkan fashion show serta ruang pertukaran pengetahuan terkait desain, bahan kulit, dan pewarnaan.
Yi mengatakan, kegiatan tersebut penting untuk mempertemukan desainer dan pelaku industri dari kedua negara sehingga tercipta komunikasi dan kerja sama yang lebih berkelanjutan.
“Kali ini kita bukan hanya pameran saja, tetapi ada fashion show juga. Ada beberapa desain, dan bahan kulit, dan pewarna untuk saling sharing kerja sama desainer untuk membangun komunikasi,” tuturnya.
Baca Juga: Modal Usaha Gratis? Ini Informasi Bantuan UMKM Pemerintah 2026 yang Wajib Diketahui
Ia berharap pameran tersebut dapat menjadi pintu masuk yang lebih luas bagi produk China dan Indonesia ke pasar ASEAN.
“Semoga kita di pameran Indonesia bisa membuka di pasaran ASEAN. Kali ini kita membuka bisnis di ASEAN dan Indonesia,” ujar Yi.
Peluang UMKM Naik Kelas
Dari sisi pelaku UMKM, kehadiran Asia Fashion Show 2026 dinilai menjadi kesempatan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperluas akses pasar.
Ketua Koordinator Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jakarta Pusat Witrie Yenni mengatakan, kegiatan tersebut memberikan peluang bagi UMKM lokal untuk naik kelas, karena produk mereka dapat diperkenalkan langsung kepada pelaku usaha dan calon mitra dari berbagai negara.
“Iya, ini adalah salah satu peluang yang sangat baik bagi UMKM kita untuk naik level,” kata Witrie.
Menurut dia, produk UMKM yang telah melalui proses kurasi dan memenuhi standar tertentu memiliki peluang untuk dilirik pasar internasional.
“Pada event seperti ini dari berbagai negara Asia juga ikut berkontribusi dan mereka hunting terhadap produk-produk kita yang sudah terkurasi dengan baik dan memenuhi standarisasi internasional,” ujarnya.
Dalam pameran tersebut, Dekranasda Jakarta Pusat turut membawa sekitar delapan pelaku UMKM dengan produk yang dinilai mampu bersaing dengan produk peserta lainnya.
Witrie menilai keikutsertaan UMKM lokal bukan sekadar kesempatan untuk menjual produk, tetapi juga menjadi tantangan agar pelaku usaha dalam negeri mampu memenuhi standar pasar global.
“Ini merupakan challenge bagi kami para UMKM dan bagi kami Dekranasda selaku pembina UMKM yang ada di Jakarta Pusat. Ini merupakan peluang untuk kami menaikkan kelas UMKM kami,” katanya.
Meski demikian, dia menilai penguatan UMKM untuk masuk pasar internasional membutuhkan dukungan pemerintah, terutama dalam hal pembinaan, standardisasi, dan promosi.
“Nah, tentunya kita membutuhkan dukungan binaan dari pemerintah, dari Kementerian UMKM dan jajarannya sampai ke tingkat daerah,” ujar Witrie.
Ia berharap terdapat mekanisme yang dapat menjembatani UMKM Indonesia dengan pasar luar negeri sehingga pelaku usaha lokal tidak hanya menjadi konsumen produk impor.
“Karena kita bukan hanya sebagai pasar, pasar dari internasional, tapi juga kita bisa sebagai pelaku, sebagai pengusaha yang menawarkan produk-produk kita ke luar,” katanya.
Perkuat Rantai Pasok
Pada penyelenggaraan tahun ini, kerja sama industri juga diperkuat melalui kolaborasi antara klaster industri di wilayah utara dan selatan China.
Dua inisiatif ekonomi dan perdagangan nasional turut diluncurkan, yakni Global Promotion of Yanzhao Premium Products – Indonesia dan Guangdong Brands Global Tour – Premium Guangdong Products Entering ASEAN – Indonesia Station.
Kolaborasi tersebut mempertemukan kekuatan industri dari Baigou, Hebei, dan Shiling, Guangdong. Kapasitas manufaktur China bagian utara dipadukan dengan kekuatan desain dan pengembangan merek dari wilayah selatan China.
Upaya tersebut sekaligus memperluas konektivitas rantai pasok industri fashion dan industri ringan China dengan pasar Indonesia dan ASEAN.
Pembukaan Asia Fashion (Indonesia) Show 2026 turut dihadiri perwakilan pemerintah dan industri dari kedua negara, di antaranya China Chamber of Commerce for Import and Export of Light Industrial Products and Arts-Crafts, CCPIT Indonesia Representative Office, Hebei CCPIT, Kementerian Perdagangan Indonesia, sektor UMKM, serta Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO).
Melalui pertemuan pelaku usaha, business matching, fashion show, dan pertukaran industri, pameran ini diharapkan tidak berhenti sebagai ajang transaksi tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang kolaborasi jangka panjang bagi industri fashion China dan Indonesia di pasar ASEAN.
